Sekretaris Perusahaan BNI Ryan Kiryanto mengatakan bahwa angka NIM perbankan saat ini kian menyusut. Merujuk Statistik Perbankan yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November silam, rata-rata rasio NIM perbankan berada pada angka 5,12 persen. Angka tersebut turun dibanding periode sama tahun sebelumnya yang masih bisa mencapai 5,31 persen.
Untuk meningkatkan laba bank, jalan terbaik adalah meningkatkan bunga kredit. Namun, setelah berdiskusi dengan pelaku usaha, kenaikan bunga kredit berpotensi akan menaikkan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BI Nilai Bunga Pinjaman Saat Ini Masih Wajar |
Opsi kenaikan bunga kredit tidak dipilih karena bisa menaikkan NPL yang malah bikin bank buntung. Sebab, bank mengalokasikan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) untuk setiap kredit yang dikeluarkan.
Rencananya, fee based income BNI akan dikejar dari transaksi antar bank dan seluruh transaksi yang menghasilkan komisi. Hanya saja, ia tak menyebut target kenaikan fee based income di tahun ini. Menurutnya, itu akan disampaikan di paparan kinerja BNI yang sedianya dilaksanakan Rabu pekan ini.
Mengutip laporan keuangan BNI hingga kuartal III 2018, pendapatan operasional selain bunga perseroan mencapai Rp27,11 triliun. Pendapatan tersebut naik 9,75 persen dibanding periode sama 2017 yang mencapai Rp24,7 triliun.
"Dan memang secara tren ke depan, fee based income akan melampaui interest income. Peran bank sebagai lender akan berkurang diganti pasar modal dan teknologi finansial," imbuh dia.
Tak hanya BNI, pilihan menggenjot pendapatan dengan memaksimalkan pendapatan berbasis komisi juga dipilih BRI. Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengatakan, fee based income merupakan strategi jangka panjang perusahaan untuk mengerek laba.
Strategi ditempuh, agar bank bisa mendapatkan diversifikasi penerimaan selain pendapatan bunga. Hingga kuartal III 2018, pendapatan operasional non-bunga BRI ada di angka Rp16,21 triliun.
Pendapatan tersebut meningkat 18,41 persen dibanding tahun sebelumnya Rp13,69 triliun. Khusus untuk fee based income, BRI menargetkan pertumbuhan sebesar 13 persen hingga 15 persen.
"Sumber kenaikan fee based income ditargetkan berasal dari transaction-based fee income, seperti trade finance dan transaksi e-banking serta kontribusi perusahaan anak seperti bancassurance dan produk keuangan lainnya," papar Haru kepada CNNIndonesia.com. (glh/agt)