Hal itu diungkapnya ketika menghadiri acara dialog bersama para anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Menara Kadin di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (31/1).
Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali memangkas proyek pertumbuhan ekonomi global dari 3,7 persen menjadi 3,5 persen pada tahun ini. Hal ini tak lepas dari ketidakpastian yang masih menyelimuti dunia, salah satunya dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Wapres JK Optimis Rupiah Bakal Terus Menguat |
Menurutnya, ketika ketidakpastian masih tinggi, maka pemerintah harus bisa sigap mengambil kebijakan-kebijakan baru yang bisa membuat perekonomian nasional tetap melaju. Kebijakan yang diambil harus mampu membuat ketidakpastian tetap menguntungkan Indonesia.
Untuk itu, Indonesia harus bisa meningkatkan daya saing barang ekspor agar bisa mengisi kekosongan pasar akibat ketegangan dagang kedua negara.
JK mengatakan salah satu hal yang saat ini tengah dilakukan pemerintah untuk mengambil celah pasar tersebut ialah dengan mempercepat penyelesaian hasil evaluasi kebijakan bebas tarif bea masuk untuk impor produk-produk tertentu (Generalized System of Preferences/GSP) dari AS.
"Makanya bagaimana agar kami bisa mengambil alih permintaan itu, jadi harus cepat kami selesaikan soal GSP dengan Amerika, agar pasar tetap luas," katanya.
Di saat yang bersamaan, pemerintah juga terus berusaha memperluas akses pasar ekspor ke beberapa negara lain. Selain itu, pemerintah juga berusaha meningkatkan daya saing barang ekspor dari Tanah Air dengan berbagai insentif pajak.
Harapannya, langkah-langkah ini bisa membuat kinerja ekspor meningkat dan memperbaiki defisit neraca perdagangan serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik yang ditargetkan mencapai 5,3 persen. (uli/agi)