Bank Sentral Jepang Revisi Turun Inflasi Jadi 0,9 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 24/01/2019 06:22 WIB
Bank Sentral Jepang Revisi Turun Inflasi Jadi 0,9 Persen Ilustrasi. (REUTERS/Yuya Shino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank of Japan kembali merevisi turun perkiraan inflasi dari 1,4 persen menjadi 0,9 persen. Penurunan mengindikasikan bank sentral Negeri Sakura tersebut kalah langkah untuk meningkatkan harga barang di negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu.

Setelah pertemuan selama dua hari, Dewan Gubernur Bank of Japan (BoJ) meninggalkan kebijakan pelonggaran moneter besar-besaran, seperti yang diperkirakan, dan menurunkan perkiraan inflasi untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2020 menjadi 0,9 persen dari semula 1,4 persen.

Bank sentral juga menurunkan perkiraan inflasi untuk tahun fiskal berjalan yang berakhir Maret 2019 menjadi 0,8 persen dari semula 0,9 persen. Tak hanya itu, proyeksi untuk tahun yang berakhir Maret 2021 juga direvisi menjadi 1,4 persen dari 1,5 persen.



Angka-angka itu tidak memperhitungkan dampak kenaikan pajak konsumsi yang diperkirakan mulai berlaku pada Oktober mendatang.

BoJ juga menyesuaikan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ke tahun. Untuk tahun fiskal 2019, ia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 0,9 persen dari semula 0,8 persen.

Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda mengatakan keputusan untuk merevisi perkiraan inflasi terutama disebabkan oleh penurunan harga minyak mentah. Namun, hal ini hanya bersifat sementara.


"Memang benar bahwa kami perlu waktu untuk mencapai target 2 persen (seperti tujuan lama yang menjadi target BoJ). Kami yakin bahwa cara yang paling tepat adalah dengan sabar melanjutkan pelonggaran moneter yang ada," katanya seperti dikutip dari AFP, Rabu (23/1).

Bank sentral memperhatikan sejumlah risiko yang membuat pertumbuhan ekonomi Jepang menyusut. Salah satunya terkait kebijakan makroekonomi Amerika Serikat (AS), dan dampaknya terhadap pasar keuangan global. Proteksionisme dan langkah Inggris keluar dari Uni Eropa juga memberi sentimen negatif bagi Jepang.

Pada 2013, BoJ memulai program pembelian obligasi besar-besaran sebagai upaya untuk merangsang kenaikan harga yang lama tidak aktif. Tujuan akhirnya, yakni mencapai angka inflasi 2 persen dalam dua tahun.


Namun, ketika pemerintah berupaya merealisasikan rencana tersebut dengan menggencarkan belanja pemerintah demi meningkatkan ekonomi, bank sentral terpaksa menunda selama beberapa kali untuk mencapai target.

Di masa lalu, kesalahan berasal dari 'pola pikir deflasi' dari konsumen dan pengusaha yang digunakan dalam periode panjang dengan pertumbuhan rendah dan penurunan harga.

Sementara itu, bank sentral Jepang mengatakan ekonomi Jepang diperkirakan terus berkembang. Disebutkan, pola pikir dan perilaku berdasarkan asumsi bahwa upah dan harga tidak akan naik dengan mudah telah tertanam dalam-dalam.


Pejabat menekankan faktor-faktor lain, termasuk upah dan pertumbuhan harga dari perusahaan, serta peningkatan kemajuan teknologi yang telah mengefisienkan biaya dan mengintensifkan persaingan.

"Butuh waktu untuk menyelesaikan faktor-faktor ini yang telah menunda kenaikan harga," kata bank. (AFP/lav)