BI Belum Lihat Risiko dari Kenaikan Harga Pangan

CNN Indonesia | Minggu, 20/01/2019 00:50 WIB
BI Belum Lihat Risiko dari Kenaikan Harga Pangan Ilustrasi bahan pangan. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mengaku belum melihat risiko kenaikan harga atau inflasi dari bahan pangan maupun makanan jadi meski produsen dan peritel sudah mulai menaikkan harga di awal tahun ini.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan sebenarnya sudah ada beberapa bahan pangan yang meningkat harganya. Namun, ia mengklaim kenaikannya tidak signifikan, sehingga belum memberi pengaruh kepada inflasi.

Hal ini, sambungnya, tercermin dari hasil survei inflasi yang dilakukan BI pada pekan ketiga Januari 2019. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat mengalami inflasi sebesar 0,5 persen secara bulanan. Sedangkan secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3 persen.


"Kami tidak melihat ada risiko tekanan inflasi dari bahan pangan, bahan makanan kami melihat belum ada kenaikan signifikan. Meski ada kenaikan untuk bawang merah, daging ayam ras, tomat sayur, maupun emas," ujarnya beberapa waktu lalu.


Lebih lanjut, Perry menjelaskan pihaknya tidak melihat risiko peningkatan inflasi karena kondisi nilai tukar rupiah tengah cukup kuat saat ini. Rupiah yang setahun belakang bergerak dari kisaran Rp13.400-15.200 per dolar AS di pasar spot, kini cukup stabi di kisaran Rp14 ribu-14.200 per dolar AS.

Selain itu, risiko inflasi dari harga komoditas mentah di pasar internasional juga cukup minim. Sebab, harga komoditas masih cukup rendah.

"Depresiasi rupiah kan terjaga, sehingga tidak menimbulkan pengaruh ke harga barang impor, baik harga internasional maupun imported inflation (inflasi dari barang impor), itu risikonya juga rendah," terangnya.

Selain itu, bila risiko inflasi muncul dari sisi ketersediaan pasokan, Perry menilai risiko ini juga terbilang minim. Pasalnya, pemerintah terus berusaha memenuhi kebutuhan pangan dan bahan makanan masyarakat.


Saat ini, menurut dia, BI dan pemerintah daerah melalui tim pengendali inflasi turut membantu urusan distribusi. Di sisi lain, Perry mengklaim risiko inflasi dari ekspektasi konsumen juga cenderung terjaga.

"Survei ekspektasi konsumen, produsen, konsensus dari para ekonom di financial market juga terjaga," imbuhnya.

Secara keseluruhan, BI membidik inflasi akan berada di titik tengah target BI sebesar 3,5 persen plus minus 1 persen pada akhir tahun ini. Target inflasi 2019 sama dengan 2018, namun realisasi inflasi tahun lalu hanya 3,13 persen.

Sebelumnya Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mengaku beberapa pelaku usaha sudah mulai menaikkan harga jual produk sekitar 5-10 persen sejak awal bulan ini. Kenaikan itu umumnya terjadi pada produk makanan dan minuman impor. Hal ini merupakan konsekuensi atas depresiasi rupiah sepanjang tahun lalu.


"Kalau dicek di gerai ritel, sebenarnya sudah ada penyesuaian harga di bulan ini dengan kisaran 5 persen hingga kurang dari 10 persen kira-kira. Ini rerata untuk seluruh produk makanan dan minuman," ucap Wakil Ketua Umum GAPMMI Rahmat Hidayat.

Hal itu terkonfirmasi pula berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com ke beberapa ritel jenis minimarket, seperti Indomaret dan Alfamart di kawasan Depok, Jawa Barat. Beberapa minimarket mengaku sudah mengerek harga jual produk seperti cokelat, wafer, dan susu sekitar Rp100-500 per kemasan.

"Kenaikannya kecil, di bawah Rp1.000 per produk," ujar salah satu petugas Indomaret yang enggan disebutkan namanya. (uli/agi)