Awas, Jebakan 'Manis' Tukar Poin Menguras Kantong

ulf, CNN Indonesia | Sabtu, 02/02/2019 11:27 WIB
Awas, Jebakan 'Manis' Tukar Poin Menguras Kantong Ilustrasi belanja online. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nurlaela (24 tahun) asyik membuka aplikasi belanja online lewat ponsel pintarnya. Secara tak sengaja ia menemukan penawaran penukaran poin atas transaksi terdahulunya. Jika tawaran tukar poin dilakukan, penyedia layanan berjanji memberikan potongan harga untuk pembelanjaan berikutnya.

Tanpa pikir panjang, Nurlaela pun memanfaatkan penawaran tersebut untuk berbelanja produk kosmetik. Padahal, ia tak berencana untuk menambah koleksi produk kosmetik.

"Jadi, saya punya koin otomatis, bisa dapat potongan harga lewat tukar poin. Akhirnya, saya beli. Hitung-hitung menjadi lebih murah," tutur dia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (1/2).

Pengalaman Nurlaela ini salah satu contoh sukses penjual untuk menarik minat 'jajan' konsumen lewat program loyalitas pelanggan. Ini adalah strategi bisnis merangkul pelanggan lama, sekaligus menjaring pelanggan baru.


Umumnya, program loyalitas pelanggan menawarkan poin reward, voucher belanja, dan layanan prioritas. Tak jarang, program sejenis menawarkan produk dan jasa secara cuma-cuma alias gratis dengan batasan poin tertentu.

Lain ceritanya dengan Ema Fitriyani (25 tahun). Ia mengaku lebih selektif dalam memanfaatkan program loyalitas pelanggan. Ia hanya akan menukarkan poin sesuai dengan kebutuhan, tidak peduli seberapa banyak tawaran poin yang menggoda.

Namun, sebagai karyawan swasta yang memiliki mobilitas tinggi, ia mengatakan sering kali memanfaatkan penukaran poin pada layanan transportasi daring, khususnya ojek online. "Kalau menukar poin lumayan dapat potongan free ride hingga Rp15 ribu," kata Ema.

Fenomena ini menggambarkan bahwa inovasi sistem penjualan yang makin berkembang, didorong dengan perkembangan teknologi melahirkan berbagai macam penawaran yang menggoda konsumen. Sederet nama perusahaan digital telah memanfaatkan layanan loyalitas ini.


Misalnya, GoJek lewat Go Poin, Shoppee dengan programnya Reward Koin Shoppee, Grab melalui Grab Reward, dan Traveloka lewat Loyalty Poin.

Selain dalam bentuk poin, beberapa perusahaan digital menawarkan potongan harga lewat voucher, misalnya Sociolla. Bukan hanya perusahaan digital, pelaku usaha konvensional misalnya pusat perbelanjaan, maskapai penerbangan, dan restoran juga telah mengimplementasikan program itu sejak lama demi menambah pendapatan.

Perencana keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali mengingatkan tidak semua program loyalitas pelanggan menguntungkan konsumen. Sebab, tak jarang pula penawaran yang ada bukannya membuat konsumen hemat, tetapi malah mendorong selera untuk belanja.

"Misalnya dengan menukar sekian poin untuk mendapatkan diskon 10 persen di resto tertentu. Konsumen yang tadinya tidak niat makan di resto itu malah jadi keluar uang," terang Gozali.

Awas, Jebakan 'Manis' Tukar Poin Menguras KantongIlustrasi belanja online. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).

Kendati demikian, ia tak menampik program loyalitas pelanggan juga membantu konsumen untuk berhemat. Terlebih, katanya, jika program loyalitas itu memberikan manfaat non komersial yang bersifat prioritas. Misalnya, program loyaliyas maskapai penerbangan yang memberikan anggotanya akses tanpa antrian.

"Yang paling menguntungkan, kalau pengeluarannya dalam rangka dinas, tapi reward diberikan pada pribadi. Misalnya, manfaat miles penerbangan. Sesekali poinnya bisa dipakai untuk upgrade (naik) kelas tiket atau menjadi free tiket (tiket gratis)," papar Gozali.

Perencana keuangan ZAP Finance Prita Hapsari Ghozie menyebutkan program loyalitas bisa membuat konsumen 'buntung' kalau konsumen belanja melebihi kebutuhan, bahkan di atas kemampuan finansial.

"Program loyalitas bisa menguntungkan untuk konsumen jika tidak dicari. Artinya, konsumen hanya memanfaatkan poin yang terkumpul untuk mengurangi pembelian berikutnya," kata Prita.


Buat Perbandingan

Supaya konsumen mendapatkan manfaat maksimal dari layanan loyalitas, Prita menyarankan konsumen untuk membandingkan penawaran program dengan manfaat yang diterimanya.

"Misalnya, untuk penukaran poin, cek terlebih dulu berapa banyak poin yang bisa dikumpulkan dari pembelian dan perhatikan tanggal kadaluarsa poin," imbuhnya.

Gozali menambahkan konsumen juga perlu memperhatikan syarat dan ketentuan dari penawaran program loyalitas pelanggan.


"Misalnya, poin sudah ditukar voucher di merchant tertentu. Tapi di merchant ternyata ada syarat yang tidak dicantumkan dalam program," jelasnya.

Ia juga menyarankan konsumen untuk berlangganan kepada satu merek, jika manfaat yang ditawarkan menguntungkan. Dengan menetap pada satu merek, maka manfaat yang didapat konsumen lebih maksimal.

"Belanja saja seperti biasa. Kalau ada reward, silakan ambil. Tapi jangan sampai belanja lebih hanya demi reward yang tidak seberapa," tandas Gozali.


(bir)