REKOMENDASI SAHAM

Lirik Harga Saham Sektor Bank di Tengah Sikap Dovish The Fed

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 04/02/2019 09:20 WIB
Lirik Harga Saham Sektor Bank di Tengah Sikap Dovish The Fed Seorang teller bank menghitung uang rupiah. (REUTERS/Nyimas Laula).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sikap bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan pada level 2,25-2,5 persen menjadi kabar baik pada awal tahun bagi sejumlah emiten, terutama yang bergerak di sektor perbankan.

Pasalnya, hal itu berdampak pada level suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang berpotensi tertahan sementara, jikapun naik tak akan sebesar tahun lalu. Sepanjang 2018, BI mengerek bunga acuan enam kali dari 4,5 persen menjadi 6 persen.

Bila suku bunga acuan BI bisa bertahan di level 6 persen, maka perbankan tak lagi harus menaikkan suku bunga kredit. Alhasil, kinerja perbankan yang masih bergantung dengan penyaluran kredit diperkirakan bisa lebih baik tahun ini.


Kepala Riset Trimegah Sekuritas Sebastian Tobing mengatakan kondisi ini jelas membawa sentimen positif untuk emiten perbankan, khususnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Hal itu juga seiring dengan realisasi kinerja keuangan Bank Mandiri yang tumbuh tahun lalu.


"(Yang direkomendasikan) Bank Mandiri, ini karena prospek dari suku bunga acuan yang lebih baik," tutur Sebastian kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/2).

Kondisi industri perbankan, kata Sebastian, akan jauh lebih baik jika The Fed bersikap dovish atau menahan kenaikan suku bunga acuan. Ia meramalkan saham emiten berkode BMRI itu bisa menginjakkan kaki di level Rp8.150 per saham atau naik 7,23 persen dari posisi Jumat (1/2) lalu di level Rp7.600 per saham.

Terkait kinerja, Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp25 triliun sepanjang 2018. Realisasi itu meningkat 21,2 persen dari laba bersih 2017 yang hanya Rp20,6 triliun.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan menyatakan penopang utama kenaikan laba bersih perusahaan berasal dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp57,3 triliun, naik 5,28 persen dari sebelumnya Rp54,45 triliun. Hal ini seiring dengan pertumbuhan kredit yang mencapai dua digit, yakni 12,4 persen menjadi Rp820,1 triliun.


Selain Bank Mandiri, pelaku pasar memiliki opsi saham bank berskala besar lain yang bisa dibeli pada pekan ini. Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menjelaskan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berpeluang memberikan cuan dalam jangka menengah.

"Untuk awal Februari bisa direkomendasikan saham bank terutama yang blue chip (memiliki nilai kapitalisasi besar). Dengan The Fed menahan suku bunga, BI diperkirakan menahan suku bunganya," papar Valdy.

Terlebih, harga saham Bank Mandiri, BNI, dan BRI diperkirakan masih rendah di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus melonjak seperti sekarang. Valdy mengatakan murahnya saham bank terlihat dari level rasio harga terhadap pendapatan atau price earning to ratio (PER).

"Bank Mandiri, BRI, dan BNI memiliki PER yang relatif di bawah sektor," kata Valdy.


PER dapat dikatakan sebagai salah satu patokan pelaku pasar untuk menentukan harga wajar saham suatu emiten. Mengutip RTI Infokom, PER Bank Mandiri saat ini sebesar 14,18 kali, BRI 14,96 kali, dan BNI 11,49 kali.

"Rata-rata saham bank masih undervalued," imbuh Valdy.

Diketahui, kinerja keuangan BRI dan BNI sama-sama meningkat pada tahun lalu. Bila dirinci, laba bersih BRI naik 11,6 persen dari Rp29 triliun menjadi Rp32,4 triliun. Kemudian, BNI meraup keuntungan sebesar Rp15,02 triliun atau tumbuh 10,3 persen dari posisi 2017 Rp13,62 triliun.

Tak ayal, harga saham Bank Mandiri, BRI, dan BNI berada dalam tren kenaikan sepanjang pekan lalu. Bila dirinci, saham Bank Mandiri melesat 5,92 persen ke level Rp7.600 per saham, BRI naik 3,7 persen ke level Rp3.920 per saham, dan BNI 1,64 persen ke level Rp9.250 per saham.

Suku Bunga AS Genjot Harga Saham Sektor BankIlustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).

Emiten Barang Konsumsi

Di sisi lain, Valdy menyebut saham emiten barang konsumsi juga menarik untuk dikonsumsi pada pekan ini atau jelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018. Sebab, tingkat konsumsi kerap menjadi penopang utama indikator makro tersebut.

"Saham-saham yang produknya diikonsumsi sehari-hari juga bisa dibeli, misalnya PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)," ucap Valdy.

Bila ekonomi Indonesia sesuai dengan target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen, artinya tingkat konsumsi juga meningkat sepanjang tahun lalu.

"Lebih dari 50 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia kan berasal dari konsumsi rumah tangga," jelas Valdy.


Berkaca pada kuartal III 2017 lalu, konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 55,26 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat itu sebesar 5,17 persen. Detilnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal III tahun lalu sebesar 5,01 persen atau lebih tinggi dari periode yang sama per 2017 sebesar 4,93 persen.

Sementara itu, untuk dua saham barang konsumsi yang direkomendasikan tadi sama-sama berakhir di zona hijau pada akhir pekan lalu. Saham Indofood Sukses Makmur naik 0,32 persen ke level Rp7.775 per saham, sedangkan Unilever Indonesia di level Rp50 ribu per saham. (lav)