REKOMENDASI SAHAM

Bersinar, Saham Penghuni Baru LQ-45 Bisa Jadi Pilihan

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 21/01/2019 08:44 WIB
Bersinar, Saham Penghuni Baru LQ-45 Bisa Jadi Pilihan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memasukkan empat saham baru sebagai penghuni indeks LQ-45 periode Februari-April 2019. Saham-saham itu, antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai keputusan BEI mengubah isi indeks LQ-45 akan mengangkat harga empat saham tersebut, khususnya pekan ini. Pelaku pasar pun diminta tak ketinggalan memanfaatkan momentum perubahan daftar indeks LQ-45.

"Beberapa saham yang masuk LQ-45 akan menarik investor besar seperti institusi yang memungkinkan kenaikan aksi beli," ungkap William kepada CNNIndoensia.com, Senin (21/1).


Walaupun daftar baru indeks LQ-45 ini baru berlaku efektif bulan depan, tapi pelaku pasar sudah bisa pasang kuda-kuda dengan melakukan akumulasi beli pada empat saham tersebut. Seperti diketahui, indeks LQ-45 kerap menjadi incaran pelaku pasar asing.


Selain pelaku pasar asing, investor institusi seperti lembaga dana pensiun (dapen) dan perusahaan aset manajemen juga seringkali membeli saham yang masuk dalam indeks LQ-45.

Tak hanya itu, lanjut William, saham yang menjadi penghuni indeks tersebut umumnya selalu liquid. Pelaku pasar ritel pun bisa dengan mudah menjual dan membeli saham di pasar reguler. "Yang menawar dan menjadi penawar sahamnya selalu ada setiap hari," tutur William.

Dari sisi fundamental, Charoen Pokphand Indonesia, Erajaya Swasembada, Pakuwon Jati, dan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia kompak membukukan kinerja keuangan positif pada kuartal III 2018 lalu. Hal ini akan menjadi sentimen positif tambahan untuk keempat saham itu sepanjang pekan hingga beberapa waktu ke depan.

Lihat saja, laba bersih Pabrik Kertas Tjiwi Kimia melesat 1.003 persen pada kuartal III 2018 menjadi US$247,89 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya US$22,46 juta. Kemudian, keuntungan Pakuwon Jati meningkat 25,35 persen menjadi Rp1,78 triliun, Charoen Pokphand Indonesia naik 79,79 persen menjadi Rp3,47 triliun, dan Erajaya Swasembada melonjak 185,84 persen menjadi Rp636,5 miliar.


"Tahun ini secara industrinya juga masih positif," imbuh William.

William mencontohkan penjualan telepon seluler (ponsel) diprediksi masih meningkat di era serba digital seperti sekarang. Kondisi itu jelas akan menyokong kinerja keuangan Erajaya Swasembada. Lalu, industri pakan ternak dan kertas juga masih dibutuhkan pasar.

"Kemudian industri properti membaik tahun ini," terang William.

Seperti diketahui, emiten properti tertekan sepanjang tahun lalu akibat pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kebetulan, sejumlah emiten di sektor tersebut memiliki utang berbentuk dolar AS, sehingga beban utang membengkak. Kini, dolar AS mulai tunduk terhadap rupiah.


Dari sisi sahamnya sendiri, mayoritas saham yang baru masuk indeks LQ-45 ini berakhir di zona merah pada Jumat (18/1) lalu. Charoen Pokphand Indonesia dan Pakuwon Jati masing-masing terkoreksi 2,65 persen ke level Rp8.250 per saham dan 1,49 persen ke level Rp660 per saham.

Sedikit lebih beruntung, Erajaya Swasembada berhasil bertahan di teritori positif meski sahamnya bergerak stagnan di level Rp2.310 per saham. Lalu, Pabrik Kerta Tjiwi Kimia menguat tipis 0,59 persen menjadi Rp12.875 per saham.

Untuk pekan ini, William meramalkan saham Charoen Pokphand Indonesia menyentuh level Rp9 ribu-Rp10 ribu per saham, Erajaya Swasembada ke level Rp2.800-Rp3 ribu per saham, Pakuwon Jati ke level Rp700-Rp750 per saham, dan Pabrik Kerta Tjiwi Kimia ke level Rp13.500 per saham.

Saham Astra International

Saham pilihan tak hanya terbatas pada empat emiten yang masuk indeks LQ-45, tapi juga perusahaan yang bergerak di sektor otomotif seperti PT Astra International Tbk (ASII).


Penjualan mobil dan motor Astra International bakal terkerek usai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melonggarkan ketentuan terkait uang muka (Down Payment/DP) pembiayaan kendaraan bermotor (mobil dan motor) menjadi nol persen.

"Sektor pilihan bisa otomotif, Astra International karena DP nol persen," ucap Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial.

Diketahui, penerapan DP nol persen hanya bisa dilakukan oleh perusahaan pembiayaan (multifinance) yang memiliki rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF) netto lebih rendah atau sama dengan satu persen.

Multifinance dengan NPF netto berkisar di atas 1 persen dan di bawah 3 persen, wajib menerapkan DP untuk motor dan mobil sebesar 10 persen. Kemudian, perusahaan dengan NPF netto di atas 3 persen hingga di bawah 5 persen, wajib menerapkan uang muka untuk seluruh jenis kendaraan bermotor sebesar 15 persen.


Sementara itu, perusahaan pembiayaan dengan NPF netto sebesar 5 persen wajib memenuhi ketentuan uang muka untuk kendaraan bermotor roda dua atau tiga, serta roda empat atau lebih untuk pembiayaan investasi paling rendah 15 persen, serta kendaraan bermotor roda empat atau lebih untuk pembiayaan multiguna paling rendah 20 persen.

Selanjutnya, multifinance yang memiliki NPF netto di atas 5 persen wajib memenuhi ketentuan uang muka untuk kendaraan bermotor roda dua atau tiga, serta roda empat atau lebih untuk pembiayaan investasi paling rendah 20 persen, serta kendaraan bermotor roda empat atau lebih untuk pembiayaan multiguna paling rendah 25 persen.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menuturkan kebijakan ini diberlakukan untuk mendorong penjualan mobil dan motor. Selain itu, multifinance juga diharapkan berlomba-lomba menurunkan NPF nya.

"Kami memancing tolong NPF diturunkan dan kesehatan perusahaan dibuat bagus jadi bisa memberikan DP nol persen," kata Wimboh.

(agt/agt)