Sentimen Pidato Trump, Indeks Bursa Asia Kompak Menguat

CNN Indonesia | Rabu, 06/02/2019 11:03 WIB
Sentimen Pidato Trump, Indeks Bursa Asia Kompak Menguat Ilustrasi bursa saham Asia. (REUTERS/Issei Kato).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks bursa saham Tokyo dan Sydney kompak meningkat pada perdagangan Rabu (6/2) waktu setempat, dipicu sentimen positif dari para investor mengikuti jejak Wall Street dan menunggu pidato kenegaraan Donald Trump.

Dikutip dari AFP, indeks bursa saham Tokyo naik 0,4 persen pada awal perdagangan, sementara indeks saham Sydney meningkat 0,6 persen. Indeks saham Manila bahkan melonjak lebih dari 1 persen.

Dengan adanya libur Tahun Baru Imlek di sebagian besar wilayah, terdapat beberapa katalis untuk mendorong bisnis, meskipun investor Jepang juga menantikan rilis pendapatan Toyota setelah perdagangan ditutup.



Investor akan mengamati pidato tahunan Trump untuk menilai gagasannya tentang berbagai masalah, termasuk perang perdagangan China, kebuntuan tembok perbatasan Meksiko, dan Korea Utara.

"Komentarnya tentang keamanan perbatasan akan menjadi fokus utama bagi pasar mengingat Trump telah mengisyaratkan kemungkinan menyatakan darurat nasional untuk mendanai tembok yang sangat diinginkannya di sepanjang perbatasan Meksiko", kata Ahli Strategi National Bank Australia Rodrigo Catril seperti dikutip dari AFP, Rabu (6/2).

Menurut Catril, konsekuensi politik dari pengumuman Trump dapat mengguncang pasar. Perdebatan presiden dengan kubu Partai Demokrat terkait tembok perbatasan membuat pemerintah AS terhenti (shutdown) selama lebih dari sebulan, sebelum akhirnya dibuka kembali selama tiga pekan, tanpa hasil kesepakatan antara kedua belah pihak.


Analis Pasar OANDA Alfonso Esparza menilai Sentimen pidato Trump sulit diprediksi dampaknya terhadap pergerakan pasar saham.

"Trump yang (menyukai) damai mungkin ada di daftar menu, tetapi tidak mungkin karena dia lebih suka memusuhi lawan-lawannya. Sekali lagi taktik itu tidak berhasil dengan Demokrat yang baru saja diperdaya, jadi ini bukan waktunya untuk mengabaikan apapun," papar Esparza.

Di pasar valuta asing, poundsterling hampir tidak berubah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat melemah pada Selasa (5/1), karena data ekonomi yang lemah dan meningkatnya kekhawatiran tentang Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan. Sejumlah analis memperingatkan hal itu bisa menjadi bencana besar.

(AFP/lav)


BACA JUGA