Harbolnas dan 'Delivery' Makanan Dongkrak Konsumsi Masyarakat

CNN Indonesia | Rabu, 06/02/2019 16:09 WIB
Harbolnas dan 'Delivery' Makanan Dongkrak Konsumsi Masyarakat Ilustrasi harbolnas. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,05 persen di sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi sejak tiga tahun terakhir.

Tercatat, pertumbuhan konsumsi masyarakat hanya tumbuh sekitar 4,94 persen pada 2017 lalu. Sebelumnya, konsumsi masyarakat hanya tumbuh 5,01 persen pada 2016 dan 4,96 persen pada 2015 lalu. Sementara, pada 2014, pertumbuhan indikator ini sempat mencapai 5,14 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati mengatakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga berhasil melonjak karena ada peningkatan pengeluaran melalui pembelian makanan jadi di aplikasi pembelian online dan jasa pengiriman (delivery). Misalnya, fitur Grab Food milik Grab Indonesia dan Go-Food milik Gojek Indonesia.


"Terlihat sekarang ibu-ibu malas masak. Soalnya (permintaan) barang makanan relatif melambat, sementara konsumsi makanan jadi naik. Jadi lebih banyak yang beli di restoran dan belanja lewat online begitu," ucapnya di kantor BPS, Rabu (6/2).

Namun, BPS belum memiliki data pasti mengenai porsi kontribusi dari pemesanan makanan jadi dalam aplikasi online dan delivery. Meskipun, BPS juga mengaku menemukan fenomena tersebut dari survei langsung ke pengeluaran masyarakat.

"Kami survei sampai ke kabupaten dan kota, setiap triwulan. Kami cross check juga (ke pelaku delivery), tapi belum ada data pastinya," terang dia.


Selain karena pamor jasa pengiriman yang meningkat, pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga mendapatkan sumbangan dari Hari Belanja Online Nasional (harbolnas) pada akhir tahun. Menurut dia, hal ini terjadi karena gaya belanja masyarakat yang sudah mulai bergeser dari pembelian di toko fisik (offline) menjadi online melalui marketplace.

Namun lagi-lagi, lembaga statistik itu belum memiliki data pasti mengenai porsi sumbangan harbolnas ke konsumsi rumah tangga. Pasalnya, di sisi lain, BPS belum berhasil mengumpulkan data penjualan di perdagangan elektronik (e-commerce).

"Untuk hitung secara makro, ini bisa diperhitungkan, tapi kalau pengumpulan data e-commerce, itu kami belum dapat. Tapi harbolnas itu mempengaruhi," kata Kepala BPS Suhariyanto.


Lebih lanjut ia menerangkan, peningkatan laju konsumsi rumah tangga tak lepas dari tumbuhnya sumber pendapatan masyarakat. Misalnya dari pendapatan tetap seperti Upah Minimum Provinsi (UMP) yang naik sekitar 8,17 persen pada tahun lalu.

Lalu, meningkatnya aliran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Bila dibandingkan tahun lalu, kebetulan pemerintah memang memperluas jumlah penerima bansos dari 6 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada 2017 menjadi 10 juta KPM pada 2018.

Data BPS mencatat jumlah bansos untuk penanggulangan kemiskinan tumbuh 857,32 persen pada 2018 dari 2017. Sementara pada 2017 hanya tumbuh 213,89 persen dari 2016. Kemudian bansos untuk perlindungan sosial tumbuh mencapai 50,03 persen dan penanggulangan bencana hingga 284,1 persen.

Walhasil, secara total jumlah bansos yang diberikan tumbuh 52,48 persen sepanjang tahun lalu. Pertumbuhan ini naik dua kali lipat dari 2017 yang hanya 11,48 persen. "Apalagi ada kenaikan yang signifikan, termasuk dengan perubahan bansos dari rastra ke non tunai," tandasnya.


(uli/bir)