Pertamina Bantah Prabowo Soal RI Bakal Impor BBM 100 Persen

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 18:08 WIB
Pertamina Bantah Prabowo Soal RI Bakal Impor BBM 100 Persen Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) membantah pernyataan calon presiden Prabowo Subianto dalam debat calon presiden kedua yang menilai Indonesia akan mengimpor 100 persen bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat. Mereka menyatakan Indonesia saat ini masih memproduksi separuh kebutuhan minyak.

"Tidak mungkin (dalam waktu dekat mengimpor BBM 100 persen) sekarang saja kami produksi 800 ribu barel per hari dari kilang yang sekarang," ujar Nicke usai menghadiri Penandatanganan Perjanjian Induk PT Pertamina (Persero) dan PT Pelindo (Persero) di Kantor Kementerian BUMN, Senin (18/2).

Prabowo saat mengikuti debat capres kedua pada Minggu (17/2) malam memperkirakan Indonesia dalam waktu dekat akan mengimpor 100 persen bahan bakar. Karenanya, Indonesia perlu memanfaatkan produk bahan bakar dari minyak kelapa sawit (CPO) sebagai substitusi bahan bakar fosil.


"Pertama, kita bisa manfaatkan kelapa sawit untuk menjadi tambahan bahan bakar kita, karena kita juga dalam waktu dekat akan jadi net importir. Kita akan impor 100 persen bahan bakar minyak kita," ujar Prabowo.


Nicke mengungkapkan perseroan saat ini juga tengah membangun kilang Balikpapan demi meningkatkan produksi minyak. Jika beroperasi, kilang Balikpapan dapat memproduksi 100 ribu bph.

"Kami juga akan membangun kilang-kilang lainnya sehingga dalam 2026 kapasitas terpasang kami menjadi 2 juta bph. Insya Allah. Jadi tidak ada lagi impor produk BBM kalau sudah selesai," ujarnya.

Selain dari bahan bakar fosil, lanjut Nicke, perseroan juga akan memanfaatkan bahan bakar hijau yang berasal dari minyak kelapa sawit maupun sumber nabati lainnya yang banyak terdapat di Indonesia. Sebanyak tiga kilang tengah disiapkan untuk memproduksi bahan bakar hijau yaitu Kilang Plaju di Sumatera Selatan, Kilang Dumai di Riau, Kilang Cilacap (Jawa Tengah), dan Kilang Balongan (Jawa Barat).

Sebelumnya, dalam wawancara terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto juga memperkirakan setidaknya butuh 20 tahun bagi Indonesia mengimpor seluruh kebutuhan BBM. Asumsi tersebut dibuat dengan memperhatikan laju penurunan produksi migas Indonesia  sebesar 5 persen per tahun.

"20 tahun itu kalau tidak ada temuan minyak, kalau ada?," ujar Djoko di kantor Kementerian ESDM, Senin (31/12) lalu.

[Gambas:Video CNN]
(sfr/agt)