Imbas Perang Dagang, Rupiah Tembus Rp14.018 per Dolar AS

CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 17:12 WIB
Imbas Perang Dagang, Rupiah Tembus Rp14.018 per Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tembus ke posisi Rp13.018 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Senin (25/2) sore. Angka itu menguat 0,28 persen dibandingkan perdagangan akhir pekan lalu Rp14.058 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah pada posisi Rp14.007 per dolar AS atau menguat dibanding posisi Jumat lalu yakni Rp14.079 per dolar AS. Hari ini rupiah diperdagangkan di kisaran Rp13.995 hingga Rp14.022 per dolar AS.

Hingga sore hari ini, sebagian mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat menguat 0,37 persen, sementara yuan China menguat 0,29 persen. Selain itu, ringgit Malaysia dan peso Filipina masing-masing juga mencatat penguatan 0,2 persen.


Kemudian, rupee India tercatat menguat 0,14 persen dan baht Thailand menguat 0,1 persen. Selanjutnya, dolar Singapura dan yen Jepang masing-masing menguat 0,05 persen dan 0,03 persen.


Hal serupa juga terjadi pada mata uang negara maju. Dolar Australia tercatat menguat 0,37 persen, sementara euro dan poundsterling Inggris sama-sama menguat 0,09 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan hari ini rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen hasil negosiasi perang dagang antara AS dan China yang berlangsung pada Minggu (24/2) waktu Washington DC.

Sesuai keputusan itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memperpanjang tenggat waktu untuk menaikkan bea masuk bagi produk-produk asal China.

"Meskipun cuma ditunda, tapi itu menimbulkan ekspektasi pasar kalau negosiasi berjalan dengan baik. Soalnya, masalah perang dagang ini memang sensitif bagi negara emerging market seperti Indonesia," jelas Dini kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/2).


Rupiah memang sempat menyentuh angka Rp13.900 pada pagi hari ini, namun kemudian merosot kembali ke kisaran Rp14 ribu. Menurut dia, hal itu hanya koreksi teknikal saja.

"Soalnya Rp13.900 itu memang jadi level terkuat rupiah setelah pernah Rp15 ribu itu. Lagi konsolidasi saja di area itu buat peluang penguatan lebih lanjut," jelasnya. (glh/lav)