Jokowi Minta RAPBN 2020 Tetap Disusun Meski Ada Pilpres

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 13:18 WIB
Jokowi Minta RAPBN 2020 Tetap Disusun Meski Ada Pilpres Presiden Jokowi meminta menterinya tetap menyusun RAPBN 2020 dengan prinsip keberlanjutan walau penyusunan dilakukan jelang masa Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para jajaran menteri Kabinet Kerja menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 dengan prinsip berkelanjutan, meski masa penyusunan dilakukan jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Penyusunan RAPBN 2020 yang berkelanjutan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Teknokratik yang sudah dipetakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

"Walaupun tahun ini memasuki pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, namun tahapan kerja teknokratik harus tetap berjalan, berkesinambungan, berkelanjutan, seperti penyusunan Rencana Kerja Pemerintah 2020 dan kebijakan makro serta pokok-pokok kebijakan fiskal," ucap Jokowi saat membuka Sidang Kabinet di Istana Kepresidenan, Rabu (6/3).


Lebih lanjut, penyusunan RAPBN 2020 secara berkelanjutan perlu dilakukan agar program pembangunan bisa dilakukan secara bertahap dan memberi dampak maksimal kepada masyarakat dan perekonomian Tanah Air.


Selain itu, penyusunan juga diperlukan agar target pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang dibidik pada tahun akhir Kabinet Kerja tercapai. "Pada 2020 prioritas pembangunan SDM tetap harus terus dikedepankan, menyambung prioritas SDM yang dimulai pada 2019," terangnya.

Tak ketinggalan, Jokowi juga menginstruksikan para jajaran menteri untuk menyusun RAPBN 2020 dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik. Dari sisi kondisi ekonomi global, Jokowi mengingatkan para menteri bahwa potensi tekanan ekonomi yang fluktuatif masih ada.

"Misalnya terkait normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat, fluktuasi harga komoditas, perang dagang, dan proteksionisme, moderasi pertumbuhan di Tiongkok, maupun keamanan dan geopolitik dunia," katanya.

Sementara dari sisi kondisi ekonomi domestik, para jajaran menteri diharapkan dapat menyusun RAPBN 2020 agar menjadi langkah-langkah yang bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, khususnya dari indikator investasi dan ekspor.


Hal tersebut, sambungnya, bisa dilakukan dengan terus mengedepankan reformasi kebijakan yang bisa memperkuat kepercayaan dari pelaku usaha. Dengan begitu, Jokowi berharap para pelaku usaha juga bisa memberi kontribusi positif terhadap penciptaan lapangan kerja, penurunan pengangguran, hingga peningkatan kontribusi industri ke perekonomian.

"APBN jelas memiliki keterbatasan, untuk itu harus diciptakan inovasi sinergi yang melibatkan dunia swasta melalui peningkatan investasi dan ekspor," pungkasnya.

Pada APBN 2019, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,3 persen dan inflasi di kisaran 3,5 persen. Lalu, kurs rupiah berada di kisaran Rp15 ribu per dolar AS dan suku bunga SPN 5,3 persen.

Kemudian, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oils Price/ICP) sebesar US$70 per barel, lifting minyak 775.000 barel per hari, dan lifting gas 1,25 juta barel per hari.

(uli/agt)