BI Sebut Ada 'Empat' Penyakit yang Saat Ini Gerogoti Rupiah

CNN Indonesia | Jumat, 08/03/2019 16:05 WIB
BI Sebut Ada 'Empat' Penyakit yang Saat Ini Gerogoti Rupiah Gubernur BI Perry Warjiyo. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi hampir sepekan belakangan kemarin hingga membuat mata uang garuda kembali menembus level Rp14 ribu per dolar AS dipicu oleh empat 'penyakit'. Celakanya, empat 'penyakit' tersebut datang dari global sehingga susah dikendalikan oleh Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan 'penyakit' pertama datang dari perbaikan kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS). Sebagai informasi, sepanjang 2018 kemarin ekonomi AS berhasil tumbuh 2,9 persen sepanjang 2018.

Pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sentimen kedua, datang dari pelambatan ekonomi Uni Eropa. 


Pelambatan tercermin dari memangkas proyeksi ekonomi yang dilakukan Bank Sentral Eropa (ECB). Pada Kamis (7/3) kemarin, Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan pertumbuhan ekonomi zona Eropa tahun ini hanya akan tumbuh 1,1 persen. Proyeksi tersebut lebih rendah dari perkiraan Desember yang masih 1,7 persen.


Oleh karenanya, Bank Sentral Eropa berencana untuk memberikan stimulus moneter demi menanggulangi inflasi yang cukup rendah.

"Yang terjadi memang ini malah menjadi sentimen positif bagi AS," jelas Perry, Jumat (8/3).

Penyakit ketiga, harga minyak dunia yang kian merangkak naik setelah AS menjatuhkan sanksi kepada Venezuela. Pada pagi ini, contohnya, harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) naik sebesar US$0,45 atau 0,8 persen menjadi US$56,67 per barel.

Sementara penyakit keempat, adalah kondisi geopolitik yang masih belum jelas. Salah satu kondisi yang disorot BI adalah negosiasi denuklirisasi antara AS dan Korea Utara hingga Inggris dan Uni Eropa yang mencari jalan keluar agar Inggris bisa dengan damai mundur dari Uni Eropa.


"Empat faktor ini menyebabkan tekanan mata uang di berbagai belahan dunia sebab faktor global, termasuk dalam beberapa hari ini, menekan rupiah," tuturnya.

Ia menyanggah jika pelemahan rupiah disebabkan karena sentimen domestik. Menurutnya data makroekonomi Indonesia justru cukup menjanjikan. Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari, contohnya, mengalami deflasi 0,08 persen.

Kemudian, BI juga melansir kenaikan cadangan devisa dari US$120,1 miliar di Januari menjadi US$123,3 miliar bulan kemarin. "Bagaimana BI menyikapi ini, tentu saja kami akan terus berada di pasar. Kami lihat mekanisme pasar supply dan demand terus berjalan baik dan terus kami pantau pasar. Selain itu, kami komitmen akan jaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental," pungkas dia.

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.215 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (8/3) pagi. Dengan demikian, rupiah melemah tajam 0,53 persen dibandingkan penutupan pada Rabu (6/3) yakni Rp14.142 per dolar AS.


Pagi tadi, mata uang Asia memang melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,34 persen, sementara ringgit Malaysia melemah 0,21 persen. Kemudian, peso Filipina juga ikut lunglai 0,12 persen disusul oleh dolar Singapura yang melemah 0,02 persen.

Sementara itu, hanya baht Thailand dan yen Jepang saja yang menunjukkan penguatan terhadap dolar AS dengan masing-masing penguatan sebesar 0,03 persen dan 0,08 persen. Adapun dolar Hong Kong tak menunjukkan perubahan terhadap dolar Singapura. (glh/agt)