Bos BI Minta RI Ambil Kesempatan dalam 'Kesempitan' China

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Senin, 04/03/2019 11:58 WIB
Bos BI Minta RI Ambil Kesempatan dalam 'Kesempitan' China Gubernur BI Perry Warjiyo meminta RI mengambil kesempatan dari perlambatan pertumbuhan ekonomi China. Misalnya, dengan relokasi industri China ke RI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengisyaratkan agar Indonesia mengambil kesempatan dalam 'kesempitan' yang dialami China. Diketahui, pertumbuhan ekonomi China hanya 6,6 persen pada 2018 lalu atau terendah dalam 28 tahun terakhir karena perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

"Sebagai orang dewasa, tidak boleh menyerah. Apa kesempatan yang bisa kita ambil dari menurunnya ekonomi China?" tanyanya ketika menghadiri RSM Forum di Jakarta, Senin (4/3).

Menurut Perry, RI bisa mengambil kesempatan dari relokasi industri China. Kondisi ini persis yang terjadi di Jepang era 1980an dan Korea Selatan usai krisis Asia. "Kala itu, Jepang juga merestrukturisasi industrinya industrinya ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia," imbuh dia.


Pun demikian halnya dengan China. Perry menuturkan RI bisa menjadi tempat investasi untuk membangun industri dari China. Salah satunya yang sudah berjalan, yakni di Kawasan Industri Morowali, yang mendatangkan Penanaman Modal Asing (PMA).

"Indonesia tidak boleh mengeluh tidak bisa mengekspor komoditas nikel. Selama ini, kita juga (ekspor) nikel dengan tanah-tanahnya. Tetapi, justru bagaimana mendatangkan atau kita tarik mereka untuk membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian," tutur dia.

Perry mengingatkan saat ini terjadi perubahan risiko pada perekonomian global dan domestik. Tahun lalu, Indonesia banyak mendapatkan tekanan dari gejolak pasar keuangan yang menyebabkan aliran modal keluar (capital outflow).


Namun, tahun ini, perekonomian banyak dipengaruhi oleh gejolak perdagangan global, terutama yang disebabkan oleh sengketa dagang AS dengan China. "Dunianya tidak sama. Karakteristik dari imbasnya berbeda, beralih dari saluran pasar keuangan ke saluran perdagangan," katanya.

Karena perubahan tersebut, Indonesia harus memiliki strategi agar bisa mengubah risiko yang ada menjadi kesempatan.

Selain dengan China, menurut Perry, Indonesia juga bisa memanfaatkan kesempatan dari perekonomian AS yang melemah.


Dalam hal ini, lanjut dia, Indonesia harus lebih giat meningkatkan kualitas produk yang bernilai tambah, sehingga bisa menembus pasar Negeri Paman Sam.

"Amerika masih menjadi pasar terbesar dari produk manufaktur kita, terutama elektronik dan garmen," jelasnya.

Di saat yang sama, Indonesia juga perlu mencari pasar-pasar baru untuk produk manufaktur. Dengan demikian, Indonesia bisa mendorong laju pertumbuhan ekspor lebih kencang.


(sfr/bir)