Tahun Lalu, Tiga BUMN Tambang Cetak Untung Rp6,6 Triliun

CNN Indonesia | Senin, 11/03/2019 20:02 WIB
Tahun Lalu, Tiga BUMN Tambang Cetak Untung Rp6,6 Triliun Ilustrasi pertambangan. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor tambang mencatatkan laba bersih sepanjang tahun lalu mencapai Rp6,6 triliun. Perolehan laba tersebut naik sekitar 29 persen dibanding 2017 yang mencapai Rp5,1 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan, laba tertinggi diraih oleh PT Bukit Asam Tbk sebesar Rp5,02 triliun. Perolehan laba tersebut naik 12,3 persen dibanding 2017. Sementara pertumbuhan laba tertinggi dicatatkan oleh PT Antam Tbk yang mencapai 541 persen dari Rp136,5 miliar menjadi Rp874,4 miliar.

Adapun BUMN tambang lainnya, PT Timah Tbk mencatatkan kenaikan laba sebesar 5,7 persen dari Rp502 miliar menjadi Rp531 miliar.



Sekertaris Perusahaan Suherman menjelaskan kenaikan laba bersih PTBA pada tahun lalu didorong oleh kenaikan pendapatan usaha dari penjualan ekspor hingga mencapai Rp2,44 triliun serta efisiensi berkelanjutan yang berhasil dilakukan perseroan.

"Laba bersih tersebut (2018) tidak hanya lebih tinggi dari 2017, tetapi menjadi laba bersih tertinggi yang dicatatkan perseroan sejak beroperasi," ujar Suherman dalam keterangan resmi, Senin (11/3).

PTBA mencatatkan produksi pada sepanjang tahun lalu naik lebih dari 2,12 juta ton dan penjualan ekspor meningkat lebih dari 1,54 juta ton. Kenaikan penjualan tersebut, menurut dia, tak lepas dari strategi perusahaan mengoptimalkan peluang pasar ekspor ke beberapa negara, seperti India, Korea Selatan, Hong Kong, dan Thailand.

Sekretaris Perusahaan Antam Aprilandi Setia menjelaskan pertumbuhan laba perseroan ditopang oleh pertumbuhan signifikan pada kinerja produksi dan penjualan komoditas utama perseroan, serta peningkatan efisiensi yang berujung pada stabilnya level biaya tunai operasi Antam.


Tahun lalu, penjualan bersih Antam pada 2018 tercatat Rp25,24 triliun, naik 99 persen dibanding penjualan bersih tahun sebelumnya Rp12,65 triliun.

"Pada 2018, Antam mencatatkan capaian produksi dan penjualan feronikel dan emas tertinggi sepanjang sejarah perusahaan," jelas Aprilandi.

Kinerja keuangan Antam yang meningkat juga tercermin dari pertumbuhan earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBIDTA) 2018 yang tercatat Rp3,33 triliun. EBIDTA perseroan tumbuh 51 persen dibandingkan capaian 2017 Rp2,21 triliun.

Sementara itu, kenaikan laba pada Timah didorong oleh pendapatan perusahaan yang naik 19,88 persen mencapai Rp11,05 triliun. Pendapatan usaha Timah masih ditopang oleh logam timah yang berkontribusi sebesar 91,88 persen, disusul oleh produk hilir sebesar 3,87 persen, dan rumah sakit 2,19 persen. (agi/agi)