Dorong Ekspor, Menteri Enggar Siapkan Amunisi Jangka Pendek

CNN Indonesia | Selasa, 12/03/2019 19:16 WIB
Dorong Ekspor, Menteri Enggar Siapkan Amunisi Jangka Pendek Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan mengaku tengah menyiapkan upaya untuk mendorong ekspor dalam jangka pendek. Langkah pertama yang dilakukan ialah mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi eksportir saat ini.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan upaya tersebut sedang dilakukan oleh setiap Kementerian/Lembaga (K/L), yakni dengan menelaah setiap hambatan ekspor sesuai kewenangan masing-masing.

"Tentu Kementerian/Lembaga terkait sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasinya untuk itu (hambatan ekspor). Sudah ada," kata Enggar di kantornya, Senin (11/3).

Kinerja ekspor masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Sepanjang tahun lalu, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$180,06 miliar. Sedangkan kinerja impor mencapai US$188,63 miliar. Kondisi ini menyebabkan Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan senilai US$8,57 miliar di 2018.


Namun demikian, Enggar menyatakan angka defisit neraca dagang tidak bisa dilihat dari nilainya semata. Lebih dari itu, lanjutnya, masyarakat harus melihat komponen impor itu. Dalam hal ini, komponen yang turut mendominasi impor Indonesia adalah barang baku dan modal.

"Impor tinggi akibat barang baku dan modal, yang artinya investasi dan pembangunan juga meningkat. Ini akan dinikmati beberapa tahun kemudian," imbuhnya.

Mantan Menteri Perdagangan tahun 2004-2011 Mari Elka Pangestu juga menyoroti soal ekspor. Menurut dia, mengurai hambatan ekspor bagi pelaku adalah salah satu upaya peningkatan ekspor jangka pendek.

"Setahu saya Kementerian Perdagangan dengan yang lain sedang membahas ini, yang bisa dipermudah dan difasilitasi (ekspor)," tuturnya.


Menteri Perdagangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini menambahkan bahwa peningkatan ekspor harus disertai dengan dorongan investasi. Oleh sebab itu, diperlukan usaha guna menggaet investor asing untuk masuk ke Indonesia.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat pertumbuhan investasi sepanjang 2018 hanya 4,1 persen menjadi Rp721,3 triliun dari posisi 2017 sebesar Rp692,8 triliun. Persentase itu melambat dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan 2017 yang mencapai 13,1 persen.

"Tadi semua sepakat tanpa adanya investasi, ekspor tidak mungkin dapat ditingkatkan," imbuhnya.

Dalam jangka menengah, katanya, Indonesia harus meningkatkan daya saing guna menggenjot ekspor. Alasannya, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor komoditas dan produk tertentu seiring perkembangan ekonomi global.


"Harus berpikir bagaimana Indonesia bisa ada dalam global value chain, misalnya otomotif karena kita mempunyai pasar yang besar. Kalau bicara daya saing, bagaimana produk kita juga bisa bersaing di pasar dalam negeri sehingga produk dalam negeri akan meningkat," tukasnya.


(ulf/lav)