Hal itu diprediksi terjadi, meski Perdana Menteri Theresa May mendapat kesepakatan untuk memudahkan negara itu keluar dari Uni Eropa. Investasi yang turun tersebut akan memicu kenaikan upah yang dapat membebani perekonomian Inggris secara keseluruhan.
"Kelambanan politik telah menghasilkan konsekuensi ekonomi, dengan banyak perusahaan yang 'menginjak rem' pada keputusan investasi dan rekrutmen," kata Direktur Jenderal BCC Adam Marshall seperti dikutip dari Antara, Senin (17/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu akan menjadi pertumbuhan ekonomi terlemah dalam satu dekade, yang mencerminkan perlambatan ekonomi global serta Brexit.
Beberapa perusahaan bahkan telah memindahkan investasi dan rencana pertumbuhan kinerja bisnisnya sebagai bagian dari persiapan darurat mereka.
"Sebagian dari investasi ini mungkin tidak akan pernah kembali ke Inggris," ungkapnya.
Lihat juga:Harga Cabai Makin 'Pedas' |
Banyak perusahaan keuangan telah mendirikan operasi di negara-negara Uni Eropa lain, dan produsen mobil juga mengurangi rencana pengembangan usaha di Inggris, termasuk Bayerische Motoren Werke atau dalam Bahasa Inggris Bavarian Motor Works (BMW). Perusahaan asal Jerman itu mengumumkan bulan ini berpotensi memindahkan beberapa produksi jika situasi Brexit tidak menemui kesepakatan.
Menurut data resmi yang diterbitkan pada 2018, investasi bisnis di Inggris turun di setiap kuartal, jangka waktu terpanjang sejak krisis keuangan global.
Menteri Keuangan Inggris Philip Hammond berharap ada peningkatan investasi perusahaan ketiga kesepakatan Brexit dilakukan.
Kendati demikian, BCC mengatakan pengalihan sumber daya untuk mempersiapkan risiko Brexit akan membatasi investasi bangkit kembali. Terlebih, jika pengalihan sumber daya dilakukan tanpa kesepakatan dan biaya tinggi di depan dalam melakukan bisnis di Inggris.
[Gambas:Video CNN] (antara/lav)