Fundamental Kuat, BI Diprediksi akan Tahan Suku Bunga Acuan

CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 11:55 WIB
Fundamental Kuat, BI Diprediksi akan Tahan Suku Bunga Acuan Ilustrasi Bank Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia diprediksi masih akan menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Kamis (21/3). Jika benar terjadi, artinya bank sentral tetap menahan suku bunga 7DRRR di level 6 persen dalam empat bulan berturut-turut.

Setidaknya, ada dua kondisi yang menyebabkan BI menahan suku bunga acuan, yakni hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berlangsung tadi malam, serta kondisi fundamental Indonesia saat ini.

Ekonom Mega Capital Indonesia Qolbie Ardhie mengungkapkan sikap dovish The Fed yang menahan suku bunga acuan Fed Rate di kisaran 2,25 persen hingga 2,50 persen membuat rupiah 'pede' tidak mengubah 7DRRR.


Dari sisi fundamental, nilai tukar rupiah sejauh ini tidak mendapat tekanan yang berarti dalam sebulan belakangan. Adapun, rupiah mengalami pelemahan tertinggi pada awal Maret lalu sebesar Rp14.314 per dolar AS. Selebihnya, rupiah berada di kisaran Rp14.200 per dolar AS.


"Hasilnya BI akan cenderung bertahan di tingkat suku bunga yang sekarang," ujar Qolbie kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/3).

Dengan demikian, BI dianggap masih sejalan dengan sikap kebijakan yang mengutamakan stabilitas ketimbang pertumbuhan ekonomi (stability over growth). Namun, sikap BI ini diperkirakan akan berubah dua hingga tiga bulan lagi karena data inflasi kian melandai.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan (year-on-year) pada Februari kemarin sebesar 2,57 persen. Ini lebih rendah ketimbang inflasi tahunan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 3,18 persen.

"Tidak menutup kemungkinan pada dua hingga tiga bulan ke depan BI bisa menurunkan tingkat suku bunganya bila tingkat inflasi terus menerus di bawah 2,5 persen year-on-year," imbuh dia.


Sementara itu, Ekonom PT Bank Maybank Indonesia Tbk Myrdal Gunarto mengatakan sikap dovish The Fed akan mendorong keputusan RDG pada hari ini. Terlepas dari itu, penetapan BI 7DRRR juga dipengaruhi sentimen kondisi neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit.

Pada Februari lalu, neraca perdagangan Indonesia memang mengalami surplus US$330 juta. Namun, secara kumulatif, Indonesia masih mencatat defisit US$730 juta sepanjang tahun 2019.

"Kondisi Indonesia yang masih defisit neraca berjalan, lalu masih butuh flow untuk mendorong masuk likuiditas membuat peluang untuk menurunkan suku bunga menjadi berat meskipun saat ini kondisi inflasi rendah maupun nilai tukar relatif stabil," terang dia.

Kemudian, data menunjukkan bahwa pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang tumbuh 6,45 persen pada tahun lalu terbilang lebih lambat dari kredit sebesar 11,76 persen. "Nah kalau bunga moneter diturunkan, ini tentu akan memicu lagi penurunan bunga tabungan maupun deposito," tambah Myrdal.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)