Bisnis China Pulih Disebut Berkat 'Guyuran' Kredit

CNN Indonesia | Kamis, 28/03/2019 06:38 WIB
Ekonomi China menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi pada kuartal pertama 2019, namun pemerintah dinilai terlalu mengandalkan guyuran kredit terhadap perusahaan. Ilustrasi. (REUTERS/Jason Lee).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonomi China menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi pada kuartal pertama 2019, dengan kinerja laba dan investasi perusahaan yang meningkat. Namun pembuat kebijakan di Negeri Tirai Bambu dinilai terlalu mengandalkan tingkat kredit dalam jumlah besar.

Survei China Beige Book International (CBB) yang dilakukan secara kuartalan terhadap ribuan perusahaan China memberi gambaran mengejutkan tentang perubahan kondisi bisnis setelah periode buruk pada kuartal keempat 2018. Saat itu, pertumbuhan ekonomi China melemah ke level terdalam sejak krisis keuangan.

Bank-bank di China menggelontorkan pinjaman dengan rekor 3,23 triliun yuan (setara US$477 miliar) pada Januari 2019, karena para pembuat kebijakan mencoba mendorong investasi yang lesu dan mencegah perlambatan ekonomi yang lebih tajam.


Para pemangku kepentingan mendesak bank-bank untuk terus memberi pinjaman kepada perusahaan-perusahaan, terutama pengusaha kecil dan swasta yang berada dalam kesulitan, meskipun perusahaan tersebut dianggap memiliki risiko kredit yang tinggi.


"Perusahaan-perusahaan swasta meminjam lebih banyak daripada perusahaan-perusahaan milik negara pada kuartal pertama," kata CBB seperti dikutip dari Antara, Rabu (27/3).

Berdasarkan temuan CBB, stimulus berupa pemberian kredit besar-besar mulai menunjukkan hasil secara perlahan. Namun, konsultan berbasis di Amerika Serikat (AS) itu khawatir bahwa pemulihan dengan 'guyuran' kredit pada kuartal pertama akan berkelanjutan. Terlebih, dengan adanya jenis-jenis shadow banking (lembaga keuangan nonbank yang menjalankan bisnis atau bertindak seolah-olah perbankan) yang lebih berisiko.

Sejumlah perusahaan mengklaim akses terhadap kredit membaik, meski dengan tingkat bunga yang lebih tinggi, di saat bank sentral berupaya untuk menurunkan biaya pembiayaan.

"Kredit sangat mahal. Biaya kredit perlu distabilkan lebih lanjut atau reli saat ini akan goyah. Pemberi shadow banking mengenakan tarif yang sangat tinggi," demikian hasil riset CBB.


Pada awal Maret, Perdana Menteri Li Keqiang mengumumkan potongan pajak tambahan dan belanja infrastruktur hingga miliaran dolar tahun ini.

Faktor kepercayaan bisnis China meningkat seiring dengan upaya dukungan pemerintah terhadap perusahaan dalam negeri. Ditambah pula dengan kemajuan pembicaraan perdagangan AS-China. (Antara/lav)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK