Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.303 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.171 per dolar AS. Rupiah hari ini diperdagangkan di kisaran Rp14.193 hingga Rp14.222 per dolar AS.
Hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Rupee India melemah 0,02 persen, yuan China melemah 0,07 persen, peso Filipina melemah 0,08 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,09 persen. Kemudian, ringgit Malaysia melemah 0,12 persen, dolar Singapura melemah 0,12 persen, dan baht Thailand melemah 0,43 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mata uang negara maju menunjukkan pergerakan bervariasi terhadap dolar AS. Euro terlihat menguat 0,09 persen, sementara poundsterling Inggris melemah 0,08 persen dan dolar Australia jatuh 0,46 persen.
Ini melanjutkan kondisi beberapa hari terakhir di mana pelaku pasar mengincar surat utang AS bertenor pendek, sehingga imbal hasilnya lebih tinggi ketimbang Surat Berharga Negara (SBN) bertenor panjang. Kondisi ini lazim disebut inverted yield curve.
"Sekarang pelaku pasar bersiap-siap mengikuti lelang obligasi, investor pun kembali memburu dolar AS. Peningkatan permintaan membuat nilai mata uang ini menguat," jelas Ibrahim, Rabu (27/3).
Hal serupa juga diamini Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra. Ia menyebut, isu perlambatan ekonomi global membuat investor mencari instrumen investasi yang lebih aman. Akhirnya, ini mendorong pelaku usaha melarikan uang dari negara berkembang.
"Sebenarnya pelemahan hari ini cukup terhambat oleh sentimen dovish The Fed yang mengindikasikan tidak ada kenaikan suku bunga acuan," jelas dia.
Lihat juga:Harga Ayam Jatuh, Peternak 'Babak Belur' |