Kembali Melemah, Rupiah Masuki Area Rp14.200

CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 16:50 WIB
Kembali Melemah, Rupiah Masuki Area Rp14.200 Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.208 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (27/3) sore. Dengan demikian, rupiah melemah 0,25 persen dibandingkan perdagangan pada Selasa (26/3) yakni Rp14.172 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.303 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.171 per dolar AS. Rupiah hari ini diperdagangkan di kisaran Rp14.193 hingga Rp14.222 per dolar AS.

Hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Rupee India melemah 0,02 persen, yuan China melemah 0,07 persen, peso Filipina melemah 0,08 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,09 persen. Kemudian, ringgit Malaysia melemah 0,12 persen, dolar Singapura melemah 0,12 persen, dan baht Thailand melemah 0,43 persen.


Di sisi lain, hanya yen Jepang saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,08 persen. Sementara dolar Hong Kong terlihat tak bergeming terhadap dolar AS.


Mata uang negara maju menunjukkan pergerakan bervariasi terhadap dolar AS. Euro terlihat menguat 0,09 persen, sementara poundsterling Inggris melemah 0,08 persen dan dolar Australia jatuh 0,46 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah kali ini masih disebabkan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS jelang lelang obligasi pemerintah AS 27 dan 28 Maret 2019 waktu setempat. Dengan demikian, investor kemungkinan masih akan memburu dolar AS dan meninggalkan rupiah.

Ini melanjutkan kondisi beberapa hari terakhir di mana pelaku pasar mengincar surat utang AS bertenor pendek, sehingga imbal hasilnya lebih tinggi ketimbang Surat Berharga Negara (SBN) bertenor panjang. Kondisi ini lazim disebut inverted yield curve.


"Sekarang pelaku pasar bersiap-siap mengikuti lelang obligasi, investor pun kembali memburu dolar AS. Peningkatan permintaan membuat nilai mata uang ini menguat," jelas Ibrahim, Rabu (27/3).

Hal serupa juga diamini Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra. Ia menyebut, isu perlambatan ekonomi global membuat investor mencari instrumen investasi yang lebih aman. Akhirnya, ini mendorong pelaku usaha melarikan uang dari negara berkembang.

"Sebenarnya pelemahan hari ini cukup terhambat oleh sentimen dovish The Fed yang mengindikasikan tidak ada kenaikan suku bunga acuan," jelas dia.

(glh/lav)