Menurut Ani, begitu ia akrab disapa, pengetatan likuiditas lira Turki di pasar uang terjadi karena pengaruh kebijakan internal pemerintahan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Namun, krisis keuangan di Turki tidak terjadi karena pengaruh dari ekonomi dunia secara keseluruhan.
Pemerintah Turki belakangan terus mengarahkan bank-bank di dalam negeri untuk menahan likuiditas lira di pasar uang asing, setidaknya sampai pemilihan lokal berlangsung pada Minggu (31/3) mendatang. Tak hanya itu, Erdogan juga memaksa para pemberi pinjaman untuk menjaga aliran kredit dan melarang penggunaan dolar Amerika Serikat (AS) pada sebagian besar kontrak pembiayaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, bendahara negara itu memastikan pemerintah tetap akan mewaspadai dampak lanjutan dari krisis keuangan di Turki. Hal ini akan dilakukan dengan terus memantau perkembangan negara yang terletak di kawasan Eurasia tersebut.
"Tapi kami harus tetap waspada karena dalam ekonomi global, sentimen itu selalu mudah menjalar," imbuhnya.
Lebih lanjut, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu mengatakan antisipasi akan dilakukan dengan terus memperkuat koordinasi dengan para anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), seperti Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
"Kami bersama OJK, BI, dan LPS akan terus merapatkan barisan dalam menjaga ekonomi Indonesia. Kami akan waspadai perkembangan yang terjadi di tempat lain yang memiliki spin over. Tapi karena spesifik dari Turki, kami berharap tidak ada spin over," pungkasnya.
Lihat juga:Pupuk Indonesia Buka Suara soal OTT KPK |