Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.255 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.202 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah diperdagangkan dalam rentang Rp14.195 hingga Rp14.257 per dolar AS.
Hari ini, sebagian mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Peso Filipina melemah 0,4 persen, won Korea Selatan sebesar 0,2 persen, rupee India melemah 0,16 persen, dan ringgit Malaysia sebesar 0,15 persen. Tak ketinggalan, dolar Hong Kong juga melemah 0,02 persen, sementara dolar Singapura tak bergeming melawan dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Menguat Tipis ke Level 6.480 |
Begitu pun dengan mata uang negara maju. Poundsterling Inggris melemah 0,32 persen, sementara euro dan dolar Australia sama-sama menguat 0,08 persen.
Namun, seiring banyaknya investor masuk ke pasar obligasi, imbal hasil seluruh tenor kini mulai menurun. Hal itu terutama pada obligasi pemerintah bertenor tiga bulan dan 10 tahun. Meski demikian, masih terjadi imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor tiga bulan yang lebih tinggi dibanding 10 tahun (inverted yield curve).
"Meski yield kedua tenor itu turun, jaraknya semakin jauh. Kekhawatiran soal ancaman resesi yang redup kini berkobar kembali," papar Ibrahim, Kamis (28/3).
Lihat juga:LPS Lihat Bunga Deposito Berpeluang Turun |
Tak hanya itu, investor kini juga bersikap wait and see untuk masuk ke aset berisiko demi mengantisipasi pertemuan antara Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He terkait negosiasi dagang. Pertemuan ini akan dihelat di Beijing 28 dan 29 Maret 2019.
Namun, pelaku pasar sejatinya agak pesimistis dengan pertemuan ini lantaran Lighthizer tidak berharap banyak dari pertemuan kedua negara.
"Jika kesepakatan dagang tak juga bisa diraih, maka perang dagang keduanya justru akan tereskalasi dan semakin memukul laju perekonomian dunia," papar dia.