Gara-gara AS, Rupiah Melemah ke Rp14.242 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 28/03/2019 16:54 WIB
Gara-gara AS, Rupiah Melemah ke Rp14.242 per Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.242 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (28/3) sore. Dengan demikian, rupiah melemah 0,33 persen dibandingkan perdagangan pada Rabu (27/3) yakni Rp14.208 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.255 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.202 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah diperdagangkan dalam rentang Rp14.195 hingga Rp14.257 per dolar AS.

Hari ini, sebagian mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Peso Filipina melemah 0,4 persen, won Korea Selatan sebesar 0,2 persen, rupee India melemah 0,16 persen, dan ringgit Malaysia sebesar 0,15 persen. Tak ketinggalan, dolar Hong Kong juga melemah 0,02 persen, sementara dolar Singapura tak bergeming melawan dolar AS.


Namun, ada juga mata uang Asia yang menguat seperti yang China sebesar 0,02 persen dan yen Jepang sebesar 0,2 persen. Kali ini, juara Asia ditempati oleh baht Thailand sebesar 0,22 persen.


Begitu pun dengan mata uang negara maju. Poundsterling Inggris melemah 0,32 persen, sementara euro dan dolar Australia sama-sama menguat 0,08 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah saat ini sedang tidak seksi lantaran perhatian pelaku pasar tengah tertuju pada dolar AS. Sebab, kini investor sedang fokus mengikuti lelang obligasi pemerintah AS yang dilaksanakan pada hari Kamis (28/3) waktu setempat.

Namun, seiring banyaknya investor masuk ke pasar obligasi, imbal hasil seluruh tenor kini mulai menurun. Hal itu terutama pada obligasi pemerintah bertenor tiga bulan dan 10 tahun. Meski demikian, masih terjadi imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor tiga bulan yang lebih tinggi dibanding 10 tahun (inverted yield curve).

"Meski yield kedua tenor itu turun, jaraknya semakin jauh. Kekhawatiran soal ancaman resesi yang redup kini berkobar kembali," papar Ibrahim, Kamis (28/3).


Tak hanya itu, investor kini juga bersikap wait and see untuk masuk ke aset berisiko demi mengantisipasi pertemuan antara Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He terkait negosiasi dagang. Pertemuan ini akan dihelat di Beijing 28 dan 29 Maret 2019.

Namun, pelaku pasar sejatinya agak pesimistis dengan pertemuan ini lantaran Lighthizer tidak berharap banyak dari pertemuan kedua negara.

"Jika kesepakatan dagang tak juga bisa diraih, maka perang dagang keduanya justru akan tereskalasi dan semakin memukul laju perekonomian dunia," papar dia.

(glh/lav)