Pengusaha Inggris 'Marah' dengan Kebuntuan Brexit

CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 06:10 WIB
Pengusaha Inggris 'Marah' dengan Kebuntuan Brexit Ilustrasi. (REUTERS/John Sibley)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengusaha di Inggris menyatakan marah dengan kebuntuan yang terjadi pada perundingan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit). Mereka menyatakan kebuntuan telah melumpuhkan politik dan bisnis Inggris.

"Kepada Westmister Kami berkata: Kami frustrasi. Kami marah. Anda telah mengecewakan bisnis Inggris," kata Adam Marshall, Direktur Jenderal Kamar Dagang Inggris (BCC), yang mewakili ribuan perusahaan seperti dikutip dari AFP, Jumat (29/3).

Sebagai catatan, 'Westminster' merupakan referensi untuk parlemen dan pemerintah Inggris.


"Anda telah fokus pada suara-suara, bukan substansi. Taktik, bukan strategi. Politik, bukan kesejahteraan Mendengarkan tanpa mendengar," tambahnya dalam pidato pembukaan pada konferensi tahunan BCC di London.


Nada kemarahan Marshall mencerminkan banyak ketidakbahagiaan komunitas bisnis selama hampir tiga tahun. Maklum ketidakpastian kronis karena masalah Brexit sudah terjadi sejak referendum pada Juni 2016.

"Tiga tahun berputar-putar. Tiga tahun sudah cukup lama, " katanya.

Musyawarah parlemen Inggris yang mengambil alih pembahasan persyaratan untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) buntu. Proses pemungutan suara tidak berhasil meraih mayoritas setelah Dewan Perwakilan menolak seluruh opsi yang dibahas.

Seperti dilansir The Guardian, Kamis (28/3), delapan persyaratan Brexit yang dibahas di parlemen sama sekali tidak ada yang disetujui. Yang nyaris disepakati hanya soal upaya negosiasi secara permanen dan menyeluruh antara bea cukai Inggris dan Uni Eropa.

[Gambas:Video CNN]

Selain soal bea cukai, usulan persyaratan Brexit yang juga nyaris disetujui adalah soal perlunya diadakan referendum untuk mengkonfirmasi untuk setiap kesepakatan Brexit. Usulan ini didukung 268 anggota parlemen, dan ditolak 295 anggota lainnya.

Usul soal Brexit yakni mempertahankan Inggris sebagai anggota Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (Efta) Kawasan Ekonomi Eropa (EEA) juga hanya didukung 188 anggota parlemen, dan 283 menolak.

Untuk mengatasi masalah tersebut Perdana Menteri Inggris Theresa May lantas menawarkan pengunduran diri. Pernyataan tersebut disampaikannya dengan harapan parlemen Inggris menyepakati poin-poin perjanjian yang ditawarkan dalam negosiasi Brexit.

Sebab, waktu untuk memutuskan soal Brexit semakin sempit dan Uni Eropa juga terus menekan meminta kepastian.




(AFP/agt)