Harga Batu Bara Kembali Merosot Jadi US$88,85 per Ton

CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 19:22 WIB
Harga Batu Bara Kembali Merosot Jadi US$88,85 per Ton Ilustrasi batu bara. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tren merosotnya Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang tejadi sejak Agustus 2018 terus berlanjut. Pada April 2019, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HBA sebesar US$88,85 per ton atau merosot 0,83 persen dibandingkan Maret 2019, US$90,57 per ton.

Penatapan ini tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 6OK/30/MEM/2019 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu bara Acuan untuk April 2019. Jika dibandingkan HBA Agustus 2018 yang dipatok US$104,65 persen, HBA bulan ini telah merosot sekitar 15 persen.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan berdasarkan kondisi pasar global, penurunan HBA April 2019 antara lain disebabkan oleh pembatasan impor batu bara oleh India.


"Beberapa pabrik keramik di India sebagai konsumen batu bara yang ditutup sementara karena masalah lingkungan," ujar Agung dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (5/4).

Selain itu, merosotnya harga juga disebabkan oleh berkurangnya pasokan batu bara Australia ke China. Salah satu pemicunya adalah kebijakan China yang memperbanyak produksi batu bara untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.


Tak hanya itu, melandainya HBA juga dipengaruhi oleh turunnya permintaan batu bara Indonesia dari Jepang dan Korea akibat bersaing dengan pasokan dari Rusia.

"Permintaan batu bara Rusia menurun untuk memasok batu bara ke negara Eropa, sehingga menyebabkan batu bara Rusia banyak dijual ke negara lain, seperti Jepang dan Eropa.

Lebih lanjut, penurunan HBA April juga seiring menurunnya rata-rata indeks batu bara bulanan global. Misalnya, Indeks ICI tercatat turun 2,09 persen, NEX turun 3,41 persen, GCNC turun 2,42 persen. Sementara, indeks Platts masih tercatat naik tipis 0,84 persen.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengungkapkan penurunan permintaan batu bara tak lepas dari proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi China. Saat ini, China merupakan konsumen batu bara terbesar bagi Indonesia mengingat spesifikasi kebutuhan batu bara mereka cocok dengan yang dihasilkan oleh mayoritas tambang di Indonesia.


"Untuk mencari pasar baru itu tidak mudah," ujarnya.

Turunnya harga batu bara akan menggerus profit perusahaan. Karenanya, menurut Hendra, sebagian perusahaan batu bara tahun ini akan cenderung konservatif dalam menyikapi pasar atau lebih berhati-hati dalam rencana investasi ke depan.

"Permintaan memang lagi menurun," ujarnya.

Hendra belum bisa memperkirakan berapa lama penurunan harga akan berlangsung. Namun, ia berharap harga batu bara. (sfr/agi)