OJK Sebut Investasi Bodong Berkedok Forex Kian Merajalela

CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 19:44 WIB
OJK Sebut Investasi Bodong Berkedok Forex Kian Merajalela Ilustrasi korban investasi bodong. (Foto: CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investasi bodong berkedok kontrak berjangka foreign exchange atau forex kian merajalela. Setiap tahun, investasi bodong berkedok forex selalu bertambah.

Perkembangan terjadi karena masyarakat mudah terpancing iming-iming imbal hasil (return) selangit yang bisa didapat dengan modal kecil. Ketua Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing mengatakan pialang atau broker perdagangan berjangka ilegal menawarkan imbal hasil fix tanpa risiko.

Padahal, jumlah imbal hasil sendiri selalu bergantung pada kondisi pasar. "Jadi kebanyakan memang juga ada di perdagangan berjangka forex, ini perlu diperhatikan. Untuk kerugiannya kami belum tahu pasti," ucap Tongam, Jumat (5/4).


Saat ini, OJK fokus mencegah permasalahan tersebut. Pencegahan dilakukan dengan menggandeng Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) untuk mengawasi pialang berjangka yang bertebaran.


Berdasarkan catatannya, pada 2017 lalu jumlah pialang berjangka ilegal sebanyak 7 entitas. Pada 2018, pialang bertambah menjadi 39 entitas. Sementara itu, pada periode Januari-Maret 2019 jumlah pialang tercatat sebanyak 14 entitas.

"Persentasenya mungkin 25 persen untuk investasi ilegal di berjangka (pada 2019) dari total investasi ilegal," terang dia.

Secara terpisah, Kepala Bagian Penindakan Transaksi Bappebti Taufik mengatakan pihaknya sejak Januari tahun ini sudah memblokir 63 pialang berjangka ilegal. Bila diurutkan sejak 2017 lalu, tren pemblokiran terbilang meningkat.

Lembaga yang berada di bawah Kementerian Perdagangan itu memblokir 107 pialang berjangka pada 2017. Jumlahnya meningkat menjadi 161 pialang pada tahun lalu.


"Ya karena memang sulit dihindari, perusahaannya juga itu-itu saja. Hanya diganti pakai strip atau titik saja, nama memang berubah tapi sebenarnya dia lagi dia lagi," ujarnya.

Sama seperti OJK, Bappebti tak membeberkan total kerugian dari investasi bodong di forex ini. Menurut Taufik, korban biasanya langsung melaporkan ke pihak kepolisian jika memang merasa ditipu, sehingga data lengkap ada di pihak berwajib.

"Kalau kami dari segi pencegahannya saja, pencegahan," pungkas Taufik.

(aud/agt)