Ekspor Naik, Daya Beli Buruh Tani Masih Terkikis Inflasi

CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 17:13 WIB
Ekspor Naik, Daya Beli Buruh Tani Masih Terkikis Inflasi Ilustrasi buruh tani. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat daya beli buruh tani pada Maret 2019 menurun 0,1 persen dari bulan sebelumnya. Hal ini terjadi karena harga sejumlah kebutuhan pokok (inflasi) meningkat lebih tinggi dari level kenaikan pendapatan.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan upah nominal yang menyatakan pendapatan buruh tani hanya meningkat 0,01 persen menjadi Rp58.873 per bulan pada Maret 2019. Sementara upah riil yang menunjukkan daya beli justru melorot 0,1 persen menjadi Rp38.561 per bulan.

"Hasil pertanian yang diekspor sebenarnya meningkat sedikit, namun hal tersebut hanya membuat upah nominal meningkat 0,01 persen. Padahal, inflasi di pedesaan sebesar 0,33 persen," ujarnya di Kantor BPS, Senin (15/4).


Tak hanya menekan para buruh tani, inflasi bulan lalu juga menekan buruh bangunan. Sebab, harga-harga bahan pokok di perkotaan juga mengalami inflasi. Tercatat, inflasi nasional mencapai 0,11 persen pada bulan lalu.


Hal tersebut membuat daya beli buruh bangunan juga menurun sekitar 0,1 persen dari Rp65.302 menjadi Rp65.237 per bulan. Pasalnya, pendapatan buruh bangunan hanya meningkat 0,01 persen menjadi Rp88.637 per bulan pada Maret 2019.

Meski begitu, daya beli buruh potong rambut wanita dan pembantu rumah tangga berhasil meningkat. Hal ini terjadi karena permintaan meningkat, sehingga mengerek upah mereka.

Tercatat, upah buruh potong rambut wanita meningkat 0,24 persen menjadi Rp27.577 per kepala. Hal tersebut membuat daya beli alias upah riil masih meningkat 0,13 persen menjadi Rp20.296 per kepala, meski ada tekanan inflasi.


Sama halnya dengan para pembantu rumah tangga, upah nominal yang meningkat 0,4 persen menjadi Rp407.992 per bulan membuat daya beli mereka masih meningkat 0,29 persen menjadi Rp300.281 per bulan.


[Gambas:Video CNN] (uli/lav)