Enggar Berdalih Defisit Neraca Dagang karena Impor Bahan Baku

CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 18:00 WIB
Enggar Berdalih Defisit Neraca Dagang karena Impor Bahan Baku Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku tidak khawatir dengan defisit neraca perdagangan kuartal I 2019, karena impor lebih banyak untuk bahan baku. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku tidak khawatir dengan defisit neraca perdagangan kuartal I. Menurut dia, peningkatan impor lebih banyak untuk bahan baku yang menunjukkan pertumbuhan industri meningkat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) defisit neraca perdagangan sepanjang kuartal I 2019 sebesar US$193,1 juta atau berbalik dibanding periode yang sama tahun lalu yang surplus US$314,4 juta.

Ia berdalih jumlah impor yang lebih besar ketimbang ekspor terjadi karena sebagian besar komoditas yang didatangkan ialah berupa bahan baku dan penolong industri. Pada akhirnya, produk akan diolah industri dalam negeri untuk kemudian diekspor kembali.


Hingga Maret 2019, impor bahan baku dan penolong tercatat US$30,58 triliun atau 74,13 persen dari total impor di kuartal I.


"Jadi kami tidak terlalu khawatir karena impornya lebih banyak di bahan baku yang menunjukkan pertumbuhan industri meningkat," jelas Enggar, Selasa (16/4).

Maka itu, ia yakin defisit perdagangan ini hanya akan terjadi sesaat karena ia yakin ekspor bisa segera moncer di tahun ini. Hanya saja, ekspor Indonesia di tahun ini masih akan mengalami ancaman, utamanya dari situasi perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS).

Terlebih, China merupakan mitra ekspor terbesar Indonesia. Berdasarkan data BPS, ekspor Indonesia ke China sebesar US$5,24 miliar hingga Maret atau 14,12 persen dari total ekspor Indonesia.

Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi global juga diramal melemah, sehingga permintaan ekspor Indonesia berpotensi menurun. Dengan demikian, pemerintah harus mencari cara agar ekspor Indonesia berdaya saing.


Untuk itu, ia berharap industri juga bisa melakukan efisiensi di biaya produksi dan memperbaiki kualitas agar bisa bersaing dengan negara lain.

"Dengan perang dagang, di satu sisi Presiden Joko Widodo mengingatkan setiap persoalan ada kesempatan. Tetapi dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah atau melemah, maka demand-nya itu akan menurun. Sehingga itu semua nantinya tergantung harga, kualitas, dan bea masuknya di negara tujuan," papar dia.

[Gambas:Video CNN] (aud/lav)