Pada kuartal I 2019, perusahaan hanya memproduksi nikel sebanyak 13.080 metrik ton atau merosot sekitar 36,44 persen dibanding produksi kuartal IV 2018 yang mencapai 20.579 metrik ton.
Jika dibandingkan produksi periode yang sama tahun lalu, 17.141 metrik ton, realisasi produksi selama periode Januari - Maret 2019 juga turun 23,69 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat revisi target tersebut, produksi perusahaan tahun ini diperkirakan bakal turun setidaknya 4 persen dibandingkan realisasi produksi tahun lalu yang mencapai 74.806 metrik ton.
Dalam pemberitaan sebelumnya, selain melakukan kegiatan produksi, perusahaan tahun ini menargetkan bisa merampungkan negosiasi komersial dengan calon mitra untuk mengembangkan proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Bahodopi, Sulawesi Tengah dan Pomalaa, Sulaweesi Tenggara.
Untuk mendukung upaya tersebut, belanja modal perusahaan tahun ini bengkak hampir dua kali lipat dari US$83 juta menjadi US$165 juta.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)