Pagi hari ini, sebagian besar mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,16 persen, peso Filipina melemah 0,14 persen, serta yen Jepang dan ringgit Malaysia yang sama-sama melemah 0,05 persen.
Di sisi lain, terdapat mata uang Asia yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen dan baht Thailand sebesar 0,07 persen. Sementara itu, dolar Singapura bergeming terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelaku pasar sejatinya menunggu (wait and see) atas hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang sedianya berlangsung Kamis (25/6) esok. BI masih diprediksi menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) di angka 6 persen.
Mengingat Indonesia adalah negara importir minyak, maka kenaikan harga minyak dunia tentu meningkatkan permintaan dolar AS di jangka pendek dan menengah. Maka itu, nilai dolar AS akan relatif lebih mahal.
"Ketika harga minyak melonjak, maka biaya importasi komoditas ini pun ikut membengkak. Akibatnya, tekanan di transaksi berjalan (current account) akan semakin berat dan rupiah kian kekurangan modal untuk menguat," jelas Ibrahim, Rabu (24/4).
[Gambas:Video CNN] (lav/lav)