Banjir Kritik, China Atur Ulang Skema Proyek Belt and Road

CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 07:23 WIB
Banjir Kritik, China Atur Ulang Skema Proyek Belt and Road Presiden Joko Widodo (kanan) dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping (kiri) saat pertemuan bilateral disela-sela menghadiri KTT One Belt One Road di Gedung Great Hall of the People, Beijing, Minggu (14/5). (ANTARA FOTO/Bayu Prasetyo).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China diperkirakan akan mempromosikan skema pembagian ulang (rekalibrasi) proyek pembangunan infrastruktur dalam Konferensi Tingkat Tinggi One Belt and One Road (KTT OBOR) yang dihadiri sejumlah kepala negara di Beijing, China, pekan ini.

Dikutip dari Reuters pada Rabu (24/4), Rekalibrasi dilakukan sebagai upaya menghilangkan kritik bahwa kebijakan infrastruktur unggulan China memicu pembengkakan utang secara kurang transparans.

Sebelumnya, kebijakan yang ditetapkan Presiden China Xi Jinping menimbulkan kontroversi seiring beberapa negara mitra mengeluhkan biaya proyek yang dianggap terlalu tinggi.


Menurut data Refinitiv, inisiatif OBOR yang dimulai pada 2013 itu memiliki skema proyek dengan total mencapai US$ 3,67 triliun, mencakup negara-negara di Asia, Eropa, Afrika, Oceania, dan Amerika Selatan.


Rancangan komite yang ditemukan Reuters mengungkapkan sebanyak 37 pemimpin dunia yang menghadiri KTT OBOR pada 25-27 April 2019 akan menyetujui pembiayaan proyek pembangunan. Selain itu, mempromosikan tujuan utang global dan mempromosikan pertumbuhan berorientasi lingkungan.

Pemerintah negara di wilayah Barat cenderung menilai kebijakan itu sebagai sarana untuk menyebarkan pengaruh China di luar negeri, dan membebani negara-negara miskin dengan utang yang tidak berkelanjutan.

Sebagian besar proyek pembangunan sedang berlangsung. Beberapa negara yang mengalami perubahan kebijakan di pemerintahan masing-masing terjebak dalam kesepakatan proyek, seperti Malaysia dan Maladewa. Terdapat pula proyek yang ditangguhkan karena alasan, antara lain proyek pembangkit listrik di Pakistan, dan bandara di Sierra Leone.

Menanggapi fakta tersebut, China tetap menolak kritik soal jebakan pembiayaan, dengan mengatakan bahwa tidak ada satupun negara yang dibebani dengan 'perangkap utang'.


Para pemimpin yang hadir akan dipimpin oleh Vladimir Putin dari Rusia, serta Perdana Menteri Imran Khan dari Pakistan, sekutu dekat China yang juga menjadi penerima terbesar investasi Belt and Road. Terdapat pula Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte yang baru-baru ini menjadi negara G7 pertama untuk menandatangani inisiatif.

Amerika Serikat, yang belum bergabung dengan One Belt and One Road, diperkirakan hanya akan mengirim delegasi tingkat rendah, tidak seorangpun berasal dari Washington DC.

Li Lifan, Wakil Direktur Jenderal Pusat Studi Inisiatif Belt dan Road di Akademi Ilmu Sosial Shanghai menjelaskan beberapa proyek Belt dan Road sedang melalui periode
rasionalisasi dan evaluasi.

"KTT akan menjadi momentum untuk refleksi dan berbicara tentang harapan untuk masa depan," katanya kepada Reuters.

[Gambas:Video CNN]
(Reuters/lav)