Pagi ini mata uang utama Asia menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,61 persen, peso Filipina melemah 0,25 persen, ringgit Malaysia melemah 0,19 persen, dan dolar Singapura melemah 0,02 persen.
Di sisi lain, hanya yen Jepang dan baht Thailand yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai masing-masing 0,06 persen dan 0,08 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yahsyi mengatakan saat ini rupiah tengah tertekan karena harga minyak yang melonjak lantaran AS meminta delapan negara pengimpor minyak dari Iran untuk menyetop aktivitas beli. Jika tidak, delapan negara itu akan kena sanksi dari AS.
Sementara itu, lanjut Dini, pelaku pasar sangat sensitif dengan potensi devisa. Ini karena devisa adalah instrumen utama Bank Indonesia (BI) dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing.
"Seperti biasa, kondisi cadangan devisa selalu sensitif terhadap sentimen pasar. Jadi ada kekhawatiran defisit cadangan devisa bisa menekan kurs rupiah terhadap dolar AS," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Kamis (25/4).
Kemudian, pelaku pasar juga masih mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan berlangsung hari ini. BI diprediksi masih menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR), sehingga kalau pun rupiah melemah, pelemahannya bersifat terbatas.
"Sehingga untuk hari ini rupiah akan ada di rentang Rp14.035 per dolar AS hingga Rp14.140 per dolar AS," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (glh/bir)