Sri Mulyani Utus 'Anak Buah' Telisik Kisruh Lapkeu Garuda

CNN Indonesia | Selasa, 30/04/2019 18:04 WIB
Sri Mulyani Utus 'Anak Buah' Telisik Kisruh Lapkeu Garuda Menteri Keuangan Sri Mulyani. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku telah menugaskan Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto untuk menelisik kekisruhan buku laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sepanjang 2018. Dalam hal ini, lembaga tersebut akan berhubungan dengan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mengaudit neraca keuangan perusahaan.

"Saya sudah minta ke Pak Sekjen untuk melihat yang disampaikan mereka," ucap Sri Mulyani, Selasa (30/4).

Mengutip laporan keuangan maskapai pelat merah tersebut, Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan menjadi KAP yang ditunjuk manajemen sebagai auditor. Buku laporan keuangan itu ditandatangani oleh Kasner Sirumapea.


Ia tak menjelaskan lebih lanjut terkait hasil penilaian sementara yang sudah dilakukan oleh Kementerian Keuangan. Begitu juga dengan sanksi jika memang kantor akuntan tersebut sengaja memanipulasi laporan keuangan Garuda Indonesia.


"Aku belum bisa ngomong apa-apa biar nanti dilihat saja kasusnya," katanya.

Pemanggilan terhadap kantor akuntan yang memeriksa laporan keuangan Garuda Indonesia sebelumnya juga dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Otoritas itu juga memanggil manajemen untuk mengklarifikasi pemberitaan neraca keuangan perusahaan.

Kisruh ini bermula dari dua komisaris yang enggan menandatangani buku laporan keuangan Garuda Indonesia periode 2018. Keduanya adalah Chairal Tanjung dan Dony Oskaria, perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd selaku pemilik dan pemegang 28,08 persen saham Garuda Indonesia.


Mereka tidak mengakui pendapatan transaksi yang tertuang di dalam perjanjian kerja sama penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan antara Mahata dan anak usaha Garuda Indonesia, yakni PT Citilink Indonesia.

Dari kerja sama itu perusahaan mendapatkan pendapatan sebesar US$239,94. Namun, hingga akhir 2018 Mahata belum juga membayarnya kepada Garuda Indonesia.

Kendati demikian, manajemen tetap menuliskan dana yang seharusnya masih menjadi piutang sebagai pendapatan. Keputusan itu membuat kinerja Garuda Indonesia terlihat lebih baik pada 2018. Bila pada 2017 masih rugi sebesar US$216,58 juta, perusahaan tercatat membukukan laba pada 2018 sebesar US$809,84 ribu.
[Gambas:Video CNN] (aud/agi)