BI Ramal Laju Investasi Bakal Deras usai Pilpres

CNN Indonesia | Kamis, 02/05/2019 20:16 WIB
BI Ramal Laju Investasi Bakal Deras usai Pilpres Ilustrasi Bank Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) berharap laju pertumbuhan investasi asing bakal semakin kencang setelah pengumuman hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 22 Mei 2019 mendatang.

Sebelumnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis realisasi penanaman modal asing (PMA) merosot 0,9 persen secara tahunan menjadi Rp107,9 triliun.

"Diharapkan setelah 22 Mei 2019, setelah pengumuman (Pilpres) itu juga berpengaruh terhadap kepastian dari investor yang ingin menanamkan (investasi) di Indonesia," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (2/5).



Sebenarnya, lanjut Onny, sentimen asing terhadap perekonomian Indonesia masih baik. Hal itu tercermin dari peringkat utang Indonesia yang membaik di mata lembaga pemeringkat utang internasional.

Japan Credit Rating Agency, Ltd (JCR), misalnya, memperbaiki Outlook Sovereign Credit Rating Indonesia dari stabil menjadi positif, ini sekaligus mengafirmasi rating pada BBB (Investment Grade) pada 26 April 2019.

Kemudian, lembaga pemeringkat Rating and Investment Information, Inc (R&I) juga mengukuhkan peringkat Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB/outlook stabil (Investment Grade).


Dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (2/5), Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan posisi peringkat Indonesia tersebut disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang solid serta ketahanan untuk menahan gejolak eksternal yang didukung oleh kebijakan nilai tukar fleksibel dan akumulasi cadangan devisa. Selain itu, peringkat tersebut juga menggambarkan level defisit anggaran dan utang pemerintah yang masih terjaga.

"Hal ini menunjukkan bahwa langkah-langkah kebijakan yang ditempuh secara konsisten dan bersinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah, dan berbagai pemangku kebijakan yang lain sudah tepat, sehingga meningkatkan kepercayaan investor terhadap ketahanan dan prospek perekonomian Indonesia ke depan," jelas Perry. (sfr/agi)