Holding Bakal Permudah AP I Kelola Bandara di Luar Negeri

CNN Indonesia | Sabtu, 04/05/2019 16:17 WIB
Holding Bakal Permudah AP I Kelola Bandara di Luar Negeri Bandara kelolaan PT Angkasa Pura I. (CNNIndonesia/safir makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I menilai pembentukan holding penerbangan akan mempermudah proses perusahaan memenangkan tender pengelolaan bandara di luar negeri. Ini lantaran posisi ekuitas, kemampuan pendanaan (leverage), hingga aset berpotensi semakin besar.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I (Persero) Devy Suradji mengatakan saat ini perusahaan sedang mengikuti beberapa lelang untuk mengelola bandara di luar negeri. Namun, ia enggan merinci bandara mana saja yang tengah dijajaki pihaknya.

"Tidak bagus disampaikan kalau belum dapat (lelangnya)," ucap Devy, Jumat (3/5).



Bila posisi neraca keuangan AP I semakin positif, maka potensi perusahaan untuk memenangkan lelang juga besar dibandingkan dengan peserta tender lainnya. Devy enggan menjelaskan sampai mana proses tender itu saat ini.

"Proses tidak bisa bilang, pokoknya kata siapa Indonesia tidak bisa mendunia," ujar dia.

Isu pembentukan holding penerbangan dihembuskan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno pada akhir Maret 2019. Rini mengaku tengah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Kementerian Keuangan untuk membentuk holding penerbangan.


"Dalam kami membuat holding, kami analisis. Kami undang Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum dan HAM. Kalau holding untuk konstruksi kami undang Kementerian PUPR, kalau urusan penerbangan kami undang Kementerian Perhubungan. Hal-hal seperti itu normal, tidak ada yang out of the ordinary," papar Rini.

Rini juga diketahui mengirimkan surat kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani mengusulkan agar PT Survai Udara Penas (Persero) bisa menjadi induk holding. Kemudian, anggotanya adalah AP I, PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II, dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Kementerian BUMN berharap holding penerbangan bisa menjadi solusi dalam menyelesaikan tantangan dan persoalan di industri sektor perhubungan udara. Tantangan yang dimaksud, mencakup kapasitas infrastruktur, konektivitas, keterbatasan regulasi, dinamika persaingan pasar, juga peningkatan standar pelayanan. (aud/agi)