Pembelaan Garuda Indonesia soal Kisruh Laporan Keuangan

CNN Indonesia | Selasa, 07/05/2019 11:49 WIB
Pembelaan Garuda Indonesia soal Kisruh Laporan Keuangan Ilustrasi garuda Indonesia. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memberikan penjelasan terkait pengakuan pendapatan atas piutang kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) yang menjadi awal kisruh laporan keuangan maskapai ini. Dalam penjelasan tersebut, Garuda mengaku memang belum menerima pendapatan dari Mahata sebesar US$239,94 juta yang seharusnya diperoleh tahun lalu.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal mengaku pembayaran atas kontrak kerja sama dengan Mahata memang seharusnya diterima perseroan sesuai dengan perjanjian kerja sama (PKS). Namun, hingga kini Garuda mengaku belum menerima pembayaran tersebut.

Diketahui, kerja sama Garuda Indonesia dengan Mahata diteken pada Oktober 2018 lalu dan diperbaharui Desember 2018. Periode kerja sama ini berlaku sampai 15 tahun mendatang.


"Pertimbangan perseroan tidak menagih pembayaran ketika PKS ditandatangani, seluruh kewajiban telah diterbitkan invoice kepada Mahata," ujar Fuad dalam keterbukaan informasi di laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (7/5).


Fuad menyatakan saat ini pihaknya sudah melakukan korespondensi dengan Mahata agar perusahaan itu segera menyelesaikan kewajibannya. Penalti atas keterlambatan pembayaran juga akan disepakati di amandemen kontrak.

Dalam penjelasan kepada BEI tersebut, ia juga menyampaikan alasan memilih PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) sebagai mitra kerja pemasangan wifi on-board, meski baru berusia 11 bulan. Fuad beralasan perusahaan itu memiliki reputasi yang baik, di dalam negeri dan luar negeri.

Menurut Fuad, Mahata juga telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan internasional. Mereka sudah lebih dulu memiliki kontrak kerja sama dengan Lufthansa system, Lufthansa Tecnic, dan Inmarsat sebelum bermitra dengan Garuda Indonesia melalui PT Citilink Indonesia.

"Perusahaan tersebut perusahaan internasional yang memiliki proses due diligence tersendiri sehingga memutuskan untuk bermitra dengan Mahata. Hal yang sama juga telah dilakukan oleh Citilink dalam proses pemilihan mitra kerja sama," kelas dia.
[Gambas:Video CNN]
Fuad mengakui Mahata memang adalah sebuah perusahaan rintisan (startup). Namun, perusahaan tersebut didukung oleh induk Global Mahata Grup yang mempunyai 10 ribu karyawan yang menaungi beberapa lini usaha seperti pertambangan, timah, inflight connectivity, dan tenaga keamanan.

"Nilai bisnis Global Mahata Grup secara total adalah US$640,5 juta," jelas Fuad.

Alasan lainnya, sambung Fuad, perusahaan tak perlu mengucurkan modal sebagai biaya investasi dalam merajut kerja sama dengan Mahata. Sebab, Mahata menawarkan konsep zero investment dan revenue sharing.

"Dari penawaran kerja sama yang telah masuk, semua menawarkan layanan yang mengharuskan airline mengeluarkan biaya investasi. Hanya Mahata yang menawarkan konsep berbeda," ungkap Fuad.


Sebelumnya, Garuda Indonesia sudah bekerja sama dengan beberapa vendor dalam hal pemasangan wifi on-board. Namun, kerja sama dengan Mahata ini memberikan layanan wifi on-board gratis kepada penumpang.

"Pemasangan wifi on-board berpotensi meningkatkan kualitas layanan kepada penumpang yang bisa menjadi faktor pendorong bagi penumpang memilih Garuda sebagai pilihan maskapai," terang Fuad.

Sebelumnya, dua komisaris Garuda Indonesia bernama Chairal Tanjung dan Dony Oskaria enggan menandatangani laporan keuangan 2018 karena tak setuju dengan keputusan manajemen menjadikan piutang dari transaksi kerja sama Mahata menjadi pendapatan perusahaan.

Masalahnya, keputusan manajemen membuat laporan keuangan Garuda Indonesia terlihat membaik pada 2018. Perusahaan mengklaim membukukan laba bersih sebesar US$809,84 ribu pada 2018, kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya yang rugi US$216,58 juta. (aud/agi)