Rupiah Kembali Menguat setelah Dua Pekan Loyo

CNN Indonesia | Selasa, 07/05/2019 16:41 WIB
Rupiah Kembali Menguat setelah Dua Pekan Loyo Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.280 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (7/5) sore. Dengan demikian, rupiah menguat 0,12 persen dibandingkan penutupan Senin (6/5) yakni Rp14.298 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.309 per dolar AS atau melemah tipis dibanding kemarin yakni Rp14.308 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada dalam rentang Rp14.268 hingga Rp14.311 per dolar AS.

Mata uang utama Asia terbilang menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,42 persen, disusul yen Jepang sebesar 0,15 persen, dolar Singapura sebesar 0,09 persen, yuan China sebesar 0,07 persen, dan baht Thailand sebesar 0,03 persen.


Di sisi lain, juga terdapat mata uang Asia melemah seperti dolar Hong Kong sebesar 0,03 persen dan ringgit Malaysia sebesar 0,03 persen. Sementara itu peso Filipina terbilang stagnan terhadap dolar AS.

Pergerakan yang bervariasi terjadi pada mata uang negara maju. Euro melemah 0,03 persen dan poundsterling Inggris melemah 0,03 persen, namun dolar Australia menguat 0,34 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah hari ini disebabkan karena pelaku pasar mulai percaya dengan ekonomi Indonesia.

Pertama, pelaku pasar mulai percaya diri dengan realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 sebesar 5,07 persen, di mana angka ini lebih rendah dibanding ekspektasi 5,19 persen. Hanya saja, angka pertumbuhan ekonomi ini masih di atas 5 persen, sehingga pelaku pasar menilai angka ini masih solid.

Kemudian, data internal lain adalah rilis data penjualan ritel Bank Indonesia yang mencatat pertumbuhan 10,7 persen secara tahunan, di mana angka ini merupakan pencapaian terbaik sejak Desember 2016. Pelaku pasar meyakini bahwa prospek ekonomi Indonesia pada kuartal II akan menguat karena ditopang momen ramadan.

"Kini pasar memilih menunggu sembari menanti data penting lain yang akan dirilis akhir pekan ini, yaitu Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Investor akan melihat bagaimana posisi keseimbangan eksternal Indonesia, masih rapuh atau sudah ada perbaikan?" ujar Ibrahim, Selasa (7/5).

Sementara itu, Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yahsyi mengatakan penguatan rupiah kali ini disebabkan karena ketegangan perang dagang yang mulai mereda.

Pada awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menaikkan bea impor China dari 10 persen menjadi 25 persen pada Jumat pekan ini. Sebelumnya, China mempertimbangkan tidak bakal bertemu pihak AS pada Jumat ini. Namun, kabar terakhir menyebut delegasi China akan tetap bertemu dengan AS.

"Ini setidaknya sedikit meredakan kekhawatiran pasar. Setidaknya China masih mau membuka diri buat terus mengupayakan kesepakatan dagang sama amerika. Di samping kemarin PDB Indonesia cenderung bagus ya, jadi bisa dorong penguatan rupiahnya," jelas Dini. (glh/lav)