Kisruh Lapkeu, BEI Minta Garuda Paparan Publik Luar Biasa

CNN Indonesia | Selasa, 07/05/2019 17:44 WIB
Kisruh Lapkeu, BEI Minta Garuda Paparan Publik Luar Biasa Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk bakal menggelar paparan publlik (public expose) insidentil pada Rabu (8/5). Hal ini dilakukan setelah manajemen melakukan pertemuan dengan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan surat Garuda Indonesia kepada BEI dituliskan bahwa paparan publik insidentil sebagai respons permintaan direksi BEI. Nama pengirim surat tersebut VP Corporate Secretary Ikhsan Rosan.

"Perseroan melaporkan rencana paparan publik insidentil sebagai berikut, latar belakang pelaksanaan permintaan Bursa tempat Hanggar 4 GMF Aero Asia, Soekarno Hatta International Airport," tulis surat manajemen Garuda Indonesia kepada BEI, dikutip Selasa (7/5).

Namun, surat itu tak menjelaskan materi apa yang akan disampaikan dalam paparan publik esok. Kegiatan itu bakal berlangsung sore hari, pukul 17.00 WIB.


Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyatakan permintaan Bursa kepada Garuda Indonesia untuk melakukan paparan publik demi masyarakat mendapat informasi secara utuh mengenai kisruh laporan keuangan perusahaan periode 2018.

"Ini merupakan permintaan Bursa, sehingga publik mendapatkan informasi yang komprehensif dan langsung dengan manajemen dapat tanya jawab," ujar Nyoman kepada CNNIndonesia.com.

Ia menyatakan telah meminta Garuda Indonesia menyampaikan materi yang akan diutarakan dalam paparan publik. Namun, materi itu belum muncul di laman resmi BEI.

Diketahui, BEI dan manajemen Garuda Indonesia melakukan pertemuan pada Selasa (30/4) lalu. Hal itu dilakukan untuk meminta penjelasan manajemen terkait perbedaan pendapat antara dua komisaris Garuda Indonesia mengenai laporan keuangan tahun lalu.

[Gambas:Video CNN]

Dua komisaris yang terdiri dari Chairal Tanjung dan Dony Oskaria tak menandatangani laporan keuangan perusahaan. Mereka tak setuju dengan sikap manajemen yang mengakui salah satu transaksi kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) sebagai pendapatan.

Dari situ, perusahaan akan mendapatkan pembayaran dari Mahata Aero Teknologi sebesar US$239,94 juta. Namun, hingga akhir tahun lalu pembayaran dari Mahata belum masuk ke kantong Garuda Indonesia.

Keputusan manajemen membuat laporan keuangan Garuda Indonesia mengilap pada 2018. Perusahaan yang beberapa tahun belakangan hampir selalu merugi ini akhirnya sukses membukukan laba sebesar US$809,84 ribu. Padahal, pada 2017, perusahaan masih rugi bersih US$216,58 juta.


(aud/bir)