Tarif Cukai Tak Naik, Penjualan Sampoerna Malah Turun

CNN Indonesia | Kamis, 09/05/2019 20:33 WIB
Tarif Cukai Tak Naik, Penjualan Sampoerna Malah Turun Keputusan pemerintah untuk menahan kenaikan tarif cukai pada tahun ini ternyata justru berdampak negatif pada penjualan emiten rokok HM Sampoerna di awal tahun.(CNN Indonesia/Gentur Putro Jati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan pemerintah untuk menahan kenaikan tarif cukai pada tahun ini ternyata justru berdampak negatif pada penjualan emiten rokok PT HM Sampoerna Tbk di awal tahun.

Direktur Utama Sampoerna Mindaugas Trumpaitis mengungkapkan absennya kenaikan pajak cukai membuat volume penjualan perusahaan menurun 3,7 persen menjadi 22,1 miliar batang. Penurunan volume penjualan ini disebut sedikit menekan pangsa pasar perusahaan dari kisaran 33 persen menjadi 32,2 persen.

Ia menjelaskan ketika pemerintah mengumumkan kenaikan cukai dan harga di akhir tahun sebelumnya, pedagang besar biasanya mengantisipasi dengan meningkatkan stok sebelum kenaikan cukai berlaku. Harapannya, pedagang bisa mendapatkan keuntungan tambahan dari selisih harga. Kondisi itu tidak terjadi di awal tahun ini.


"Saat tidak ada kenaikan cukai, pedagang besar mulai menyesuaikan persediaannya ke bawah. Jadi, itu penyebab volume penjualan kami di awal tahun sedikit tertekan," ujar Trumpaitis dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/5).


Turunnya penjualan, lanjut Trumpaitis, juga disebabkan oleh selisih harga ritel produk A Mild terhadap merek pesaing yang semakin besar setelah kenaikan harga dilakukan pada Oktober 2018 lalu.

Kendati penjualan turun, pendapatan bersih perusahaan pada tiga bulan pertama masih positif akibat harga jual yang lebih tinggi di berbagai produk pada portofolionya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan masih tumbuh 2,9 persen menjadi Rp23,4 triliun. Kenaikan pendapatan mendorong laba tumbuh 8,4 persen menjadi Rp3,3 triliun.

Menurut Trumpaitis, penjualan perusahaan ke depan akan semakin baik mengingat permintaan produk rokok dengan kadar tar tinggi dan rendah pertumbuhannya mulai merangkak. Selama dua tahun terakhir, penjualan rokok cukup kena imbas negatif dari kenaikan pajak rokok yang rata-rata mencapai 11 persen per tahun selama dua tahun terakhir.


"Kenaikan pajak jauh lebih tinggi dari inflasi sehingga berdampak pada keterjangkauan harga produk," jelasnya.

Untuk mendukung kinerja perusahaan ke depan, perusahaan tahun ini juga mengalokasikan belanja modal sebesar Rp1 triliun. Alokasi tersebut utamanya ditujukan untuk perbaikan dan meningkatkan performa mesin-mesin.

Bagi Dividen Rp13,63 Triliun

Dalam kesempatan yang sama Trumpaitis juga mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp13,63 triliun atau setara dengan Rp177,2 per saham atas kinerja perusahaan tahun lalu. Dividen tersebut meningkat 7,6 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya yang sebesar Rp12,67 triliun atau Rp107,7 per saham.

Peningkatan dividen sejalan dengan pertumbuhan laba bersih yang mencapai 6,8 persen menjadi Rp13,5 triliun. Kenaikan laba tersebut tak lepas dari pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 7,7 persen menjadi Rp106,7 triliun.
[Gambas:Video CNN]
Perusahaan mengklaim mampu mempertahankan posisi kepemimpinannya di Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 33 persen dengan penjualan sebanyak 101,4 miliar batang, naik tipis dari tahun sebelumnya 101,3 miliar batang.

Jika dirinci, berdasarkan keterangan perusahaan, perusahaan tahun lalu menguasai pangsa pasar sigaret kretek mesin sebesar 30,2 persen, 60,9 persen pada segmen sigaret putih mesin, dan 37,7 persen dalam segmen sigaret kretek tangan. (sfr/agi)