Emiten Rokok Raup Untung Rp15 Triliun dalam 9 Bulan

CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 13:55 WIB
Emiten Rokok Raup Untung Rp15 Triliun dalam 9 Bulan Ilustrasi rokok. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kinerja emiten rokok kembali mengepul sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Meski masih ada satu emiten yang merugi, keuntungan yang dikepul seluruh emiten rokok mencapai Rp15,06 triliun, naik dari periode yang sama tahun lalu Rp13,96 triliun.

Saat ini, emiten rokok yang menjadi penghuni di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).

Dari empat emiten tersebut, kinerja terbaik dari sisi persentase pertumbuhan dicatatkan oleh Wismilak Inti Makmur atau emiten dengan nilai kapitalisasi terendah di sektor rokok. Hingga kuartal III 2018, laba bersih perusahaan melesat 17,68 persen menjadi Rp31,27 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp26,57 miliar. Hal itu tak lepas dari pendapatan perusahaan yang juga meningkat 7,96 persen.


Kenaikan keuntungan terbesar kedua dibukukan oleh Gudang Garam sebesar 6,46 persen dari Rp5,41 triliun menjadi Rp5,76 triliun. Penopang utamanya juga dari meningkatnya pendapatan yang mencapai 13,58 persen menjadi Rp69,88 triliun.

HM Sampoerna mencatatkan kenaikan laba paling tipis sebesar 3,85 persen, tetapi keuntungan yang dibukukan masih paling besar di antara emiten lainnya yakni mencapai Rp9,69 triliun. Kenaikan laba juga ditopang pendapatan yang naik 7,24 menjadi Rp77,53 triliun.

Sementara, Bentoel Internasional Investama masih merugu pada kuartal III 2018. Namun, nominal kerugian perusahaan turun 47,17 persen dari Rp810,7 miliar menjadi hanya Rp423,9 miliar. Hal ini seiring dengan peningkatan penjualan perusahaan sebesar 12,32 persen dari Rp14,2 triliun menjadi Rp15,95 triliun.
Kinerja emiten rokok hingga kuartal III 2018. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra mengatakan kenaikan signifikan laba yang dialami oleh Wismilak Inti Makmur dan penurunan rugi bersih Bentoel Internasional Investama yang cukup signifikan disebabkan karena harga jual dua produk emiten itu lebih murah dibandingkan dengan HM Sampoerna dan Gudang Garam.

"Kalau harga rokoknya murah kan volume lebih banyak. Tapi tetap saja pangsa pasar HM Sampoerna dan Gudang Garam tetap masih paling besar," ujar Aditya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/11).

Pada penutupan sore ini, HM Sampoerna dan Gudang Garam masih berada di puncak titik teratas untuk emiten sektor rokok. HM Sampoerna memiliki nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp440,84 triliun dan Gudang Garam sebesar Rp153,48 triliun. Sementara, nilai kapitalisasi pasar Bentoel Internasional Investama hanya Rp11,86 triliun dan Wismilak Inti Makmur sebesar Rp323,24 miliar.

"Lalu juga lihat lagi peningkatan antar kuartal, jangan hanya tahunan. Jika peningkatan antar kuartal tak stabil, naik lalu turun lalu naik itu tidak bagus, kalau stabil bagus. Sejauh ini yang stabil ya HM Sampoerna dan Gudang Garam," jelas Aditya.

Sementara, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai peningkatan kinerja emiten rokok terbilang tak mengejutkan pasar karena masih dalam batas rata-rata atau sewajarnya. Terlebih, kinerja emiten rokok memang terkenal selalu menggeliat jelang tahun politik.

"Jadi memang tahun ini bagus untuk sektor barang dan konsumsi seperti emiten rokok ini, konsumsi masyarakat akan meningkat biasanya," jelas Hans.


Umumnya, lanjut Hans, belanja politik berupa sembako dan rokok ramai jelang pilpres. Maklum, keduanya sering digunakan sebagai senjata menaklukan hati rakyat kecil dalam pemilihan presiden maupun pemilihan legislatif.

"Kan banyak yang dibeli barang-barang untuk dikasih-kasih gitu kan, itu rokok masuk sebagai barang yang sering dibeli untuk dibagikan," ujar Hans.

Prospek Bisnis

Aditya memprediksi HM Sampoerna akan menjadi emiten yang mengumpulkan cuan paling banyak dibandingkan tiga emiten rokok lainnya. Ia memperkirakan HM Sampoerna berpeluang meraup untung sebesar Rp13 triliun pada akhir tahun ini.

"Kemudian Gudang Garam bisa Rp7,8 tiliun. Bentoel Internasional Investama masih merugi bisa sebesar Rp700-800 miliar dan Wismilak Inti Makmur targetnya bisa Rp39 miliar," kata Aditya.


Menurutnya, HM Sampoerna dan Gudang Garam sebenarnya sulit tumbuh signifikan karena tipe perusahaan yang sudah begitu matang. Ia pun menilai, mempertahankan peningkatan pendapatan dan laba bersih meski tipis, sudah bagus.

"Kalau perusahaan sudah matang, biasanya tingkat pertumbuhan memang sudah tak tinggi-tinggi sekali," jelas Aditya.

Ia pun memperkirakan kinerja perusahaan rokok tersebut masih akan tumbuh di kisaran 10-15 persen tahun ini meski pemerintah membatalkan kenaikan tarif cukai rokok pada 2019 mendatang.

"Porsi pembayaran cukai memang besar, di atas 50 persen. Implikasinya bagus untuk marjin. Tapi untuk pertumbuhan kinerja mungkin tidak sampai dua atau tiga kali lipat," terang Aditya.

Sebagai informasi, pemerintah biasanya selalu menaikkan tarif cukai rokok setiap tahun. Pada 2018 , pemerintah mengerek cukai hasil tembakau (CHT) sebesar 10,04 persen dari posisi 2017. Lebih rinci, untuk jenis sigaret kretek mesin (SKM) naik 10,9 persen, sigaret putih mesin (SPM) naik 13,5 persen, dan sigaret kretek tangan (SKT) naik 7,3 persen. (aud/agi)