Perang Dagang dan Rilis transaksi Berjalan Tekan kurs Rupiah

CNN Indonesia | Kamis, 09/05/2019 16:45 WIB
Perang Dagang dan Rilis transaksi Berjalan Tekan kurs Rupiah Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.363 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (9/5). Dengan demikian, rupiah melemah 0,48 persen dibandingkan penutupan Rabu (8/5) yakni Rp14.295 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.338 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.305 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp14.306 hingga Rp14.370 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang Asia menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,86 persen, yuan China melemah 0,56 persen, rupee India melemah 0,33 persen, dan peso Filipina melemah 0,27 persen. Kemudian, ringgit Malaysia melemah 0,12 persen dan dolar Singapura melemah 0,11 persen.

Di sisi lain, terdapat pula mata uang yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,02 persen dan yen Jepang sebesar 0,35 persen. Kemudian, baht Thailand tidak menunjukkan pergerakan terhadap dolar AS.


Mata uang negara maju juga melemah terhadap dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris melemah 0,12 persen, dolar Australia melemah 0,21 persen, dan euro melemah 0,03 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yahsyi mengatakan hari ini rupiah diserang baik dari sisi internal maupun eksternal.
Dari sisi eksternal, perang dagang antara AS dan China memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump tetap kukuh menaikkan bea masuk impor produk asal China dari 10 persen menjadi 25 persen. Sebab, ia menuduh China yang selama ini melanggar kesepakatan yang sudah terjalin selama ini.

Persoalannya, hal yang lebih mengkhawatirkan pelaku pasar adalah ucapan Trump yang tidak mempermasalahkan terjadinya perang dagang. "Karena Trump hanya mau mementingkan perekonomian AS saja, dan China dianggap selama ini selalu mencurangi AS," jelas Dini kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/3).

Sementara itu dari sisi internal, pelaku pasar mengantisipasi rilis data defisit transaksi berjalan. "Pelaku pasar mengkhawatirkan defisit transaksi berjalan semenjak harga minyak dunia naik terus," imbuh dia.




(glh/lav)