AS-China Beri Asa Capai Sepakat, Harga Minyak Brent Menguat

CNN Indonesia | Jumat, 10/05/2019 08:07 WIB
AS-China Beri Asa Capai Sepakat, Harga Minyak Brent Menguat Ilustrasi kilang minyak. (www.pertamina-ep.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah Brent menguat tipis pada perdagangan Kamis (9/5), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan untuk tidak mengerek tarif impor produk China. Sebelumnya, investor khawatir apabila tarif diterapkan akan menyeret pertumbuhan ekonomi dan memukul permintaam minyak.

Dilansir dari Reuters, Jumat (10/5), harga minyak mentah Brent pada penutupan perdagangan Kamis (9/5), naik tipis US$0,02 menjadi US$70,39. Selama sesi berlangsung, harga Brent sempat tertekan ke level US$69,4 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melemah US$0,42 menjadi US$61,7 per barel.


Sengketa dagang antara AS-China, yang merupakan dua perekonomian dunia, dan anjloknya pasar modal global telah menghantam harga minyak. Dampak kedua hal itu lebih besar dari tensi geopolitik dan kebijakan pemangkasan pasokan dari Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah.


Harga minyak bangkit dari level terendah selama sesi perdagangan setelah Trump menyatakan ia menerima 'surat yang indah' dari Presiden China Xi Jinping. Dengan mengutip surat tersebut dengan mengatakan ''Mari bekerja sama, mari kita lihat apakah kita bisa menyelesaikan sesuatu".

Pekan ini, AS sempat mengumumkan akan mengerek tarif hingga 25 persen terhadap produk impor China senilai US$200 miliar pada Jumat ini jika kedua negara tak jua mencapai kata sepakat. China telah mengancam untuk melakukan balasan atau retaliasi yang memicu investor mengalihkan asetnya ke aset yang berisiko rendah.

Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger menilai surat tersebut memberikan harapan terhadap kemungkinan AS dan China mencapai kesepakatan perdagangan.

Menurut Partner Again Capital Management LLC John Kilduff sengketa dagang AS-China telah menyeret pertumbuhan ekonomi di Asia. Jika negosiasi kedua negara gagal proyeksi permintaan minyak global yang telah dibuat sebelumnya akan dipertanyakan.


Badan Administrasi Informasi Energi AS memperkirakan permintaan minyak global bakal tumbuh 1,4 juta barel tahun ini.

"Itu sebabnya Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sedikit pelit untuk memasok minyak," ujar Kilduff.

Sebagai catatan, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, telah menjalankan kebijakan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) sejak awal Januari 2019 lalu. Kesepakatan tersebut berlaku selama 6 bulan dan akan dievaluasi lagi pada pertemuan Juni 2019 mendatang.

Sumber Reuters menyatakan Arab Saudi, produsen terbesar OPEC, ragu-ragu untuk menambah pasokan global karena takut harga bakal anjlok. Bahkan, kelompok kartel OPEC juga tak yakin kondisi pasokan global pada paruh kedua tahun ini.


Sejumlah analis juga menilai harga minyak juga mendapatkan dorongan dari pengenaan sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran serta ancaman terhadap pasokan di Nigeria dan Venezuela. Hal itu mengurangi dampak dari sengketa dagang AS-China.

Sejak awal tahun harga Brent dan WTI telah menguat lebih dari 30 persen.

"Ketidakpastian pasokan adalah yang menahan pasar (minyak AS) di atas US$60 per barel," ujar Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures Phillip Streible di Chicago.

Menurut Streible, ketidakpastian pasar yang mendorong harga ke zona merah pada perdagangan kemarin. Namun, pasar dapat bertahan dengan baik.

Di awal pekan ini, pasar mendapatkan kejutan dari penurunan persediaan minyak mentah AS yang mengerek harga. (sfr/agi)