Ada Perang Dagang, Reksa Dana Diharap Tetap Tumbuh 10 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 15/05/2019 06:36 WIB
Ada Perang Dagang, Reksa Dana Diharap Tetap Tumbuh 10 Persen Logo OJK. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap jumlah dana kelolaan industri reksa dana (asset under management/AUM) sepanjang 2019 bisa tumbuh di atas 10 persen dari capaian akhir tahun lalu.

Hal itu diharapkan di tengah sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang memanas. Angka tersebut mengacu pada rata-rata pertumbuhan kenaikan dana kelolaan reksa dana tiap tahun.

Direktur Pengelolaan Investasi OJK Sujanto menyatakan total dana kelolaan industri reksa dana hingga 10 Mei 2019 tercatat sebesar Rp507,76 triliun. Realisasi itu hanya tumbuh tipis jika dibandingkan dengan akhir 2018 lalu yang sebesar Rp505 triliun.

"Iya (naik tipis) karena kan pasar saham juga turun terus, lihat RTI Infokom. Itu kan merah semua," ucap Sujanto, Selasa (14/5).


Pengaruh saham begitu besar terhadap total dana pengelolaan karena reksa dana saham menjadi penyumbang terbesar bagi industri. Jika dirinci, total dana pengelolaan di reksa dana saham sebesar Rp141,42 triliun, diikuti terproteksi Rp131,35 triliun, dan pendapatan tetap Rp102,72 triliun.

Kemudian, reksa dana pasar uang hingga 10 Mei 2019 kemarin tercatat sebesar Rp55,02 triliun, syariah Rp34,85 triliun, campuran Rp24,5 triliun, ETF Rp12,96 triliun, dan indeks Rp4,91 triliun.

Sujanto menilai reksa dana saham tetap menjadi incaran mayoritas pelaku pasar, meski sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China terus menghantui pergerakan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mengutip RTI Infokom, IHSG sudah rontok dalam tiga pekan berturut-turut.


Pada penutupan Selasa (14/5), IHSG kembali merosot lebih dari 1 persen ke level 6.071. Hal tersebut berbeda jauh dengan kondisi Februari 2019 kemarin, di mana posisi IHSG berada di kisaran 6.400-6.500.

"Justru kalau kondisi begini investor harus masuk. Kalau dia sudah masuk, kalau nanti naik kan ada keuntungan di situ," terang dia.

Ia meminta pelaku pasar tidak panik merespons sentimen global. Sebab, peluang kenaikan IHSG tetap ada dalam waktu ke depan.

"Dulu-dulu juga begitu, ya seperti biasa saja. Nanti pada saatnya juga naik-naik juga," pungkas Sujanto.



(aud/lav)