Industri dan Ritel China Melambat karena Perang Dagang AS

CNN Indonesia | Rabu, 15/05/2019 10:22 WIB
Industri dan Ritel China Melambat karena Perang Dagang AS Ilustrasi China. (AFP POTO/Attila Kisbenedek).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertumbuhan produksi industri China melambat pada April menjadi 5,4 persen dibanding Maret, memperkuat kemungkinan Beijing akan meluncurkan lebih banyak stimulus di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat yang memanas.

Analis yang disurvei oleh Reuters sebelumnya memperkirakan hasil produksi industri akan tumbuh 6,5 persen melambat dari pertumbuhan yang kuat pada Maret sebesar 8,5 persen.

Investasi pada aset tetap pada Januari-April naik 6,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Lebih rendah dari perkiraan analis sebesar 6,3 persen.



Investasi aset tetap sektor swasta, yang menyumbang sekitar 60 persen dari keseluruhan investasi di China, naik 5,5 persen pada periode yang sama, melambat dibanding kenaikan tiga bulan pertama tahun ini sebesar 6,4 persen.

Penjualan ritel naik 7,2 persen pada bulan April, paling lambat sejak Mei 2003, turun tajam dari 8,7 persen di bulan Maret.

Amerika Serikat meningkatkan perang tarif dengan China pada Jumat dengan menaikkan pajak barang-barang China senilai US$ 200 miliar di tengah-tengah pembicaraan terakhir untuk menyelamatkan kesepakatan perdagangan. China membalas pada Senin, meskipun dalam skala yang lebih kecil.


Langkah AS datang ketika ekonomi China mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah serangkaian stimulus dilancarkan pemerintah.

Ekonom Citi memperkirakan kenaikan tarif AS dapat memotong 50 basis poin pertumbuhan PDB Tiongkok, mengurangi ekspor sebesar 2,7 persen, dan membebani negara itu dengan 2,1 juta pekerjaan lagi, meskipun mereka optimis kesepakatan perdagangan pada akhirnya akan tercapai. (Reuters/agi)