Jokowi Panggil Darmin dan Sri Mulyani Bahas Perang Dagang

CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 15:56 WIB
Jokowi Panggil Darmin dan Sri Mulyani Bahas Perang Dagang Presiden Jokowi memanggil Menko Darmin dan Menkeu Sri Mulyani untuk membahas perang dagang dan dampaknya terhadap perekonomian nasional. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk membahas dampak ketegangan baru perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang terjadi beberapa hari terakhir.

Selain Darmin dan Sri Mulyani, turut hadir Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Pertemuan berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (14/5).

Menurut Darmin, pemerintah belum khawatir dengan dampak kelanjutan perang dagang dari kedua negara mitra dagang utama Indonesia. Namun, pemerintah sudah mulai membaca dan memproyeksi dampak yang mungkin terjadi. Misalnya pelemahan ekonomi dunia.

"Artinya, kami mengantisipasi pelemahan ekonomi dunia. Kami ingin ekonomi kita (Indonesia) tetap relatif baik, malah sedikit lebih baik dari tahun-tahun yang lalu," terangnya.


Hasil rapat, ia mengungkapkan menyepakati bahwa pemerintah harus segera mendorong lebih banyak realisasi investasi, baik domestik maupun asing. Tujuannya, agar industri di semua sektor bisa mendapat suntikan modal dan roda produksi bergerak lebih kencang. Khususnya, industri berbasis ekspor dan pariwisata.

"Kami lihat ada beberapa daerah yang pas untuk mendorong pariwisata, industri atau agrobisnis," katanya.

Namun demikian, Darmin menyampaikan Jokowi meminta agar seluruh peta strategi antisipasi ini dapat dilakukan secara riil dan cepat. "Kami berusaha lebih konkret industrinya apa saja, berapa, sudah harus mulai spesifik," ungkapnya.

Sayangnya, ia enggan memberi gambaran lebih luas soal antisipasi dampak perang dagang, perlambatan ekonomi global, hingga penguatan ekonomi domestik itu. Sementara, Sri Mulyani, Perry, dan Wimboh juga enggan berkomentar terkait hasil rapat di kantor presiden itu.


Pada Jumat (10/5) kemarin, Presiden AS Donald Trump kembali menaikkan tarif bea masuk atas produk impor yang berasal dari China dengan nilai US$200 miliar. Kenaikan tarif dilakukan dari 10 persen menjadi 25 persen. Hal ini sontak menimbulkan ketegangan baru bagi hubungan perdagangan kedua negara.

Kebijakan Trump itu kemudian langsung dibalas oleh pemerintah China. Kementerian Keuangan China menyatakan akan mengenakan tarif bea masuk balasan terhadap produk impor asal Negeri Paman Sam dengan nilai US$60 miliar mulai 1 Juni mendatang.

"Penyesuaian China pada tarif tambahan merupakan respons terhadap unilateralisme dan proteksionisme AS. Kami berharap dengan respons ini, AS akan kembali ke jalur yang benar dari perdagangan bilateral dan konsultasi ekonomi dan bertemu dengan China di tengah jalan," ungkap Kementerian Keuangan China.

[Gambas:Video CNN]

Sementara bagi Indonesia, dampak ketegangan hubungan dagang kedua negara setidaknya sudah terasa di pasar uang. Nilai tukar rupiah melemah sejak sentimen dari kedua negara merebak.

Rupiah hari ini berada di posisi Rp14.453 per dolar AS atau melemah 0,21 persen dari hari sebelumnya. Begitu pula dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di posisi 6.058,18 atau melemah 1,26 persen dari kemarin sore.


(uli/bir)