Perang Dagang dan Defisit Neraca Dagang Bikin IHSG Meradang

ulf, CNN Indonesia | Rabu, 15/05/2019 17:13 WIB
Perang Dagang dan Defisit Neraca Dagang Bikin IHSG Meradang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meradang. Pada jeda perdagangan siang tadi, indeks anjlok 1,01 persen atau 61,35 poin ke posisi 6.009,85. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meradang. Pada penutupan sore ini, indeks anjlok 1,48 persen atau 90,31 poin ke posisi 5.980 dari penutupan kemarin 

Kinerja lesu IHSG disebut terjadi karena kembali memanasnya perang dagang AS dan China. Ditambah lagi, faktor internal, rilis neraca perdagangan RI yang defisit hingga US$2,5 miliar per April 2019.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan membenarkan hal tersebut. Ia menyebut sebelum sentimen perang dagang yang kembali mencuat, ada dua sentimen dari domestik dan eksternal yang berpengaruh secara negatif kepada pasar.

Dari sisi domestik, angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen dinilai masih jauh dari target pemerintah di 2019, yakni 5,3 persen. Sedangkan dari sisi eskternal, bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), tidak menurunkan tingkat suku bunga acuannya karena tingkat pengangguran AS cukup memuaskan.


"Kondisi-kondisi ini yang membuat pengaruh perang dagang makin kuat. Jadi, ini bukan hanya efek perang dagang sendiri ada beberapa sentimen mendahului," katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/5).

Defisit neraca perdagangan, sambung Alfred, menambah buruk kondisi pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan defisit US$2,5 miliar, anjlok dibanding neraca perdagangan Maret yang mencatat surplus US$540,2 juta.

Ia mengungkapkan laju indeks sebelum rilis neraca dagang melemah 10-20 poin. Namun, setelah pengumuman neraca perdagangan, pelemahannya meningkat hingga mencapai 61 poin.

"Jadi istilahnya ini memperberat, psikologi pasar yang sudah negatif, masuk lagi berita negatif. Meski muatannya tidak terlalu besar, tapi dari sisi psikologinya makin berat," jelasnya.


Diperkirakan tekanan di pasar akan berlangsung hingga selesai Lebaran. Pasalnya, belum ada sentimen positif yang mampu mendongkrak kinerja pasar modal dalam waktu dekat.

Akan tetapi, kembali lagi bahwa prediksi tersebut bisa berubah jika perang dagang tak kunjung mereda. Rencananya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu di sela-sela pertemuan G20 pada 28-29 Juni 2019, di Osaka, Jepang.

"Jadi berharap setelah lebaran ada proses recovery (pemulihan) dengan catatan isu perang dagang akhir Juni mulai surut, kalau makin parah ini bisa berlanjut sampai September," kata Alfred.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menyampaikan hal senada. Selain faktor eksternal yang tidak bersahabat, kinerja ekonomi di dalam negeri pun tak cukup memuaskan.


Imbasnya, investor memilih untuk mengalirkan modalnya kepada aset-aset safe heaven (aset aman). Salah satunya dolar AS. Kondisi ini menyebabkan modal asing berbondong-bondong meninggalkan pasar modal.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aksi jual asing (net sell) pada perdagangan kemarin mencapai Rp998,91 miliar atau hampir menyentuh Rp1 triliun dalam sehari. "Sentimen perang dagang membuat pasar khawatir, sehingga menjadi trigger (pemicu) di pasar domestik," tuturnya.

Ia menambahkan aliran modal asing ke dolar AS membuatnya makin perkasa. Akibatnya, beberapa mata uang asing terpukul kenaikan dolar AS, termasuk nilai tukar rupiah. Pada pukul 16.00 WIB nilai tukar rupiah menyentuh Rp14.463 per dolar AS naik 0,2 persen atau 29 poin.

[Gambas:Video CNN]

"Jadi kenaikan dolar AS ini juga merupakan dampak dari pelaku pasar yang masuk ke safe heaven," terang dia.

Oleh sebab itu, Kevin menyarankan agar investor menunggu dan mengamati (wait and see) kondisi ini dalam jangka pendek, yakni satu hingga dua minggu sebelum masuk ke pasar modal. Namun, untuk tujuan jangka panjang investor disarankan tetap masuk ke pasar modal dengan porsi investasi yang tidak terlalu banyak.


(bir)