REKOMENDASI SAHAM

IHSG Semakin Terpuruk, Tak Perlu Buru-Buru Borong Saham

CNN Indonesia | Senin, 20/05/2019 09:58 WIB
IHSG Semakin Terpuruk, Tak Perlu Buru-Buru Borong Saham Analis saham memperhatikan pergerakan IHSG. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terjerembab ke jurang pelemahan pada pekan lalu. Tak tanggung-tanggung, IHSG bahkan kembali ke area 5.000-an, atau tepatnya 5.826 dari sebelumnya bertahan di area 6.000.

Pelemahan indeks mencapai 6,16 persen sepanjang pekan kemarin. Jika dilihat secara tahun kalender atau sejak awal 2019 sampai perdagangan terakhir, IHSG terkoreksi 5,74 persen.

Head of Research & Consulting Service Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan pelaku pasar sebaiknya jangan 'bernafsu' memborong saham dengan alasan sudah murah. Pasalnya, belum ada kepastian bahwa IHSG akan bangkit (rebound) pekan ini.


Ia menyatakan pelaku pasar lebih baik melihat ketersediaan modal dan memasang strategi terlebih dahulu jika ingin berinvestasi ketika IHSG sedang bergerak volatile seperti sekarang. Setelah itu, baru pilih saham paling tepat yang akan dibeli.


"Jadi kalau kondisinya sekarang mainnya strategi dulu, jangan asal beli. Lihat modal dan profil mau jangka pendek atau panjang," ucap Edbert kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/5).

Bagi pelaku pasar yang hanya memiliki modal sedikit dan ingin keuntungan jangka pendek, Edbert menyarankan jangan melakukan transaksi beli dulu atau bisa bersikap menunggu (wait and see) sampai ada sinyal kenaikan. Masalahnya, jika IHSG semakin melemah, maka pelaku pasar akan merugi.

"Jadi tidak masalah pasar belinya bukan di harga terendah, tapi pas mulai beranjak naik. Ini kan bicara yang terburuk ya, karena kalau melihat trennya IHSG masih turun," tutur dia.

Namun, jika pelaku pasar 'ngotot' ingin melakukan transaksi beli secara bertahap mulai pekan ini, maka disarankan untuk memperhatikan secara seksama pergerakan harga saham. Agar tak merugi, Edbert sarankan pasar membatasi harga terendah yang demi membatasi kerugian atau biasa disebut stop loss.

Sebagai contoh, jika pelaku pasar membeli saham A di harga Rp10 ribu per saham dan angka stop loss ditentukan di level Rp8.500 per saham. Ketika harga saham A terus menurun dan sudah mencapai batas yang ditentukan, yakni Rp8.500 per saham, pelaku pasar harus segera menjualnya.


Pemegang saham memang merugi. Namun, sebaiknya memang dijual di harga yang telah ditentukan ketimbang harga saham melemah lebih dalam. Jangan sampai pelaku pasar menunggu sampai harga saham A bangkit, karena kondisi pasar saham terbilang sedang tak kondusif.

"Jadi minggu ini lebih bermain strategi ya, mau stop dulu atau gimana. Mau trading silahkan tapi stop loss dijaga," tegasnya.

Berbeda dengan pelaku pasar yang modalnya besar dan tujuan investasinya jangka panjang, Edbert menyebut saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap) bisa dicermati. Beberapa saham yang dimaksud, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

"Sektor perbankan cukup tahan ketika pasar menurun kemarin," terang Edbert.

Menengok data Bursa Efek Indonesia (BEI), seluruh indeks sektoral merosot pada pekan lalu. Pelemahan sektor keuangan terbilang cukup tinggi mencapai 6,39 persen, tapi tetap lebih rendah jika dibandingkan dengan sektor lainnya seperti industri dasar sebesar 9,32 persen dan infrastruktur 7,9 persen.


Saham BCA, Bank Mandiri, dan BNI juga berakhir di zona merah pada Jumat (17/5) kemarin. Bila dirinci, saham Bank Mandiri terkoreksi paling dalam daripada dua saham lainnya, yakni mencapai 3,74 persen ke level Rp7.075 per saham.

Kemudian, saham BCA tersungkur ke level Rp25.900 per saham setelah turun 1,89 persen. Sementara BNI bisa dibilang paling beruntung karena pelemahannya tipis hanya 0,92 persen ke level Rp8.100 per saham.

Tak hanya perbankan, sejumlah saham big cap lainnya di sektor otomotif dan barang konsumsi bisa jadi pilihan pekan ini. Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengatakan seluruh saham big cap sudah murah.

"Saham-saham blue chip sudah murah seperti PT Astra International Tbk (ASII). Saham-saham defensif, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga menarik untuk dikoleksi," papar Janson.

Terpantau, rata-rata saham tersebut melorot lebih dari satu persen pada akhir pekan lalu. Saham HM Sampoerna paling parah dengan pelemahan 1,49 persen ke level Rp3.300 per saham, diikuti Astra International yang turun 1,11 persen ke level Rp6.700 per saham, Gudang Garam 1,02 persen ke level Rp79.725 per saham, dan Unilever Indonesia 0,48 persen ke level Rp41.600 per saham.


Janson menilai saham-saham itu akan tumbuh signifikan dalam jangka pendek dan menengah. Unilever Indonesia misalnya, ia memprediksi harga sahamnya naik 12,98 persen ke level Rp47 ribu per saham.

Lalu, saham HM Sampoerna berpotensi menguat 9,09 persen ke level Rp3.600 per saham dan Gudang Garam naik 11,63 persen ke level Rp89 ribu per saham. Sementara, kenaikan saham Astra International diproyeksi lebih tinggi mencapai 26,86 persen ke level Rp8.500 per saham.

Secara keseluruhan, ia menyatakan valuasi pasar saham Indonesia sedang murah-murahnya. Mahal atau murahnya saham bisa dilihat dari price book value (PBV) dan price earning ratio (PER).

Menurut dia, baik PBV dan PER IHSG sekarang paling murah dibandingkan dengan 2004 silam. Rinciannya, PBV IHSG saat ini sebesar 2,4 kali dan PER 14,6 kali.

"Valuasi IHSG termurah sejak 2004. Rata-rata PBV IHSG sejak 2004 adalah 2,6 kali, sementara rata-rata PER adalah 16,5 kali," pungkas Janson.

[Gambas:Video CNN] (aud/lav)