IHSG Tinggalkan Level 6.000, Saatnya Beli Saham Murah

ulf, CNN Indonesia | Jumat, 17/05/2019 09:23 WIB
IHSG Tinggalkan Level 6.000, Saatnya Beli Saham Murah Ilustrasi indeks saham. (M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terus melemah sejak perdagangan awal pekan ini. Sampai penutupan Kamis (16/5) kemarin, indeks tercatat melemah 1,42 persen atau 85,14 poin ke level 5.895 dari perdagangan hari sebelumnya.

Meski kinerjanya tengah menurun, analis justru menilai kondisi ini merupakan waktu yang tepat bagi investor untuk membeli saham. Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengatakan investor bisa memanfaatkan 'diskon' harga saham saat ini untuk investasi jangka panjang.

"Artinya, koreksi harga bisa dimanfaatkan untuk menambah portofolio mereka," katanya kepada CNNIndonesia.com.


Alasannya, secara fundamental kondisi ekonomi domestik maupun global diprediksi akan membaik. Ia tidak menampik pertumbuhan ekonomi global tahun ini diproyeksi lebih rendah dibandingkan capaian tahun sebelumnya.


Bahkan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2019 menjadi 3,3 persen dari semula 3,5 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini ditargetkan mencapai 5,3 persen.

Namun, sejumlah lembaga ekonomi global memprediksi ekonomi akan mengalami akselerasi pada 2020. Pun, dengan ekonomi Indonesia yang diprediksi bisa terus bertumbuh positif. Dengan demikian, kondisi ini akan mempengaruhi kinerja pasar modal sekaligus kinerja emiten tercatat di dalamnya.

"Di akhir kuartal III dan IV tahun ini adalah akumulasi sentimen positif di 2020," katanya.

Kendati demikian, investor tetap harus selektif ketika hendak membeli saham dalam kondisi pelemahan indeks. Ia menyarankan investor untuk membeli saham berkapitalisasi besar alias blue chips lantaran memiliki fundamental yang lebih stabil.


Untuk itu, ia merekomendasikan saham-saham blue chip di sektor perbankan dan telekomunikasi, yakni saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Sebaliknya, ia mengimbau investor untuk menghindari saham-saham yang terkait langsung dengan nilai tukar rupiah dan berbasis ekspor.

"Seperti sektor komoditas, karena perang dagang pasti akan menekan laju pertumbuhan permintaan komoditas. Sektor minyak dan gas (migas) juga sebaiknya dihindari dulu. Lainnya, farmasi kami melihat depresiasi rupiah tidak begitu bersahabat," imbuhnya.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Ia menuturkan pelemahan indeks dipicu sentimen perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali memanas. Dari dalam negeri, sentimen defisit neraca perdagangan pada April sebesar US$2,5 miliar menambah kekhawatiran pasar.


Akan tetapi, ia meyakini sentimen ini bersifat sementara. Oleh sebab itu, ia menilai investor sebaiknya memanfaatkan momentum penurunan harga saham ini untuk melakukan akumulasi beli.

"Kalau investasi jangka panjang kami pikir akumulasi beli untuk saham-saham yang turun, karena penurunan ini bersifat sementara,"katanya.

Ia memprediksi pelemahan indeks akan terjadi dalam kurun waktu satu hingga dua bulan ke depan. Pasar, lanjutnya, akan mencermati hasil negosiasi perang dagang yang diprediksi akan keluar pada satu hingga dua bulan ke depan. Sedangkan sentimen dalam negeri, hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah memenuhi ekspektasi pasar sehingga memberikan sentimen positif bagi laju indeks.

Ia menyarankan investor untuk membeli saham-saham di sektor konstruksi, keuangan, consumer good, dan ritel.

IHSG Tinggalkan Level 6.000, Saatnya Beli Saham MurahIlustrasi. (REUTERS/Thomas White)

"Kami lihat consumer good dan ritel cukup defense (tahan). Kalau perbankan karena ketika pasar mulai naik, saham perbankan yang selalu bergerak dulu. Sedangkan konstruksi positif karena sangat memungkinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) lanjut dua periode," jelasnya.

Di sektor consumer good ia merekomendasikan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Selanjutnya, sektor perbankan ia merekomendasikan saham BMRI, BBNI, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Untuk sektor konstruksi ia merekomendasikan saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP).

Sedangkan di sektor consumer good ia merekomendasikan saham PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).

[Gambas:Video CNN] (lav)


BACA JUGA