Jokowi Akui Defisit Neraca Perdagangan Persoalan Besar

CNN Indonesia | Senin, 20/05/2019 20:18 WIB
Jokowi Akui Defisit Neraca Perdagangan Persoalan Besar Presiden Jokowi mengakui defisit neraca perdagangan merupakan persoalan besar. Untuk mengatasinya, ia meminta agar ekspor ditingkatkan. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan).
Nusa Tenggara Timur, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui bahwa defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan merupakan persoalan besar. Hal itu disampaikannya usai meresmikan Bendungan Rotiklot, Desa Fatuketi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Senin (20/5).

"Yang namanya defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan itu memang persoalan besar kita. Bolak balik saya sampaikan," ujarnya.

Karenanya, untuk mengatasi defisit neraca perdagangan, Jokowi meminta seluruh pihak mendorong peningkatan ekspor, termasuk memproduksi barang-barang substitusi impor.

"Kalau ekspor tidak meningkat, kemudian barang substitusi impornya tidak diproduksi sendiri di dalam negeri, mau sampai kapan ini akan rampung," terang dia.


Lebih lanjut ia menuturkan kunci permasalahan terletak pada industrialisasi dan hilirisasi. "Jangan sampai kirim barang mentah (raw material) ke luar negeri. Semuanya harus ada nilai tambah di dalam negeri. Kuncinya di situ saja," imbuh Jokowi.

Pun demikian, ia menegaskan bahwa pemerintahannya telah berupaya mengurangi defisit neraca perdagangan. Ia mencontohkan avtur, yang sudah tidak diimpor lagi.

Ia juga mendorong tumbuhnya industri petrokimia di dalam negeri, demi menekan impor sektor ini yang relatif besar. "Semua kok impar-impor, sampai kapan pun defisit pasti terjadi kalau impor terus," jelasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada April defisit US$2,5 miliar. Kinerja ini jauh dibandingkan neraca perdagangan Maret yang mencatat surplus US$540,2 juta.

[Gambas:Video CNN]

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan defisit neraca perdagangan disebabkan karena jumlah ekspor lebih kecil dibanding impornya. Tercatat, ekspor April di angka US$12,6 miliar sementara impornya di angka US$15,10 miliar.

Ia menyebut nilai ekspor April turun 10,8 persen dibanding bulan sebelumnya, yakni US$14,12 miliar. Menurutnya, hal ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah penurunan harga komoditas batu bara, timah, nikel dan bijih besi. Ini berpengaruh terhadap ekspor pertambangan yang turun 7,31 persen secara bulanan.

Kemudian, ekspor migas Indonesia juga turun sebesar 34,95 persen secara bulanan, meski harga minyak mentah Indonesia ada di angka US$68,71 per barel atau meningkat dari Maret US$63,60 per barel.

Ekspor pertanian juga tertekan karena ada penurunan harga di minyak kelapa sawit meski volumenya meningkat. Sementara itu, produksi karet melemah meski harganya stabil. Akhirnya, ekspor pertanian harus turun 6,74 persen secara bulanan.


(fra/bir)