OJK Catat Aliran Modal Asing Keluar RI Bulan Ini Rp13,7 T

CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 18:43 WIB
OJK Catat Aliran Modal Asing Keluar RI Bulan Ini Rp13,7 T Ilustrasi OJK. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aliran modal asing yang keluar dari Indonesia (capital outflow) pada sepanjang bulan ini hingga 17 Mei 2019 mencapai Rp13,73 triliun. Aliran modal asing tersebut keluar melalui pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Berdasarkan data OJK, aliran modal asing yang keluar dari pasar saham sepanjang bulan ini hingga 17 Mei 2019 mencapai Rp7,83 triliun, sedangkan jual bersih pada pasar SBN tercatat sebesar Rp5,9 triliun.

Kendati mencatat aliran modal asing keluar, OJK menilai stabilitas sistem keuangan pada Mei 2019 terjaga. Kinerja intermediasi dinilai positif dan profil risiko lembaga jasa keuangan terkelola dengan baik.


Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis Anto Prabowo menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2019 berada di atas ekspektasi memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan pada April 2019. Namun, peningkatan tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok menyebabkan naiknya tekanan di pasar keuangan sejak awal Mei 2019.

"Kondisi ini mengakibatkan risk-off investor di pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia," ujar Anto dalam keterangan resmi, Rabu (22/5).


Sementara itu, menurut dia, rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 dan kinerja eksternal Indonesia di awal Mei 2019 belum memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan domestik.

OJK mencatat investor nonresiden masih mencatatkan beli bersih hingga April 2019 di seluruh pasar mencapai Rp65,24 triliun. Sementara beli bersih di pasar reguler tercatat sebesar Rp6,62 triliun. Pada periode yang sama, investor juga tercatat melakukan beli bersih pada SBN sebesar Rp67,1 triliun.

Namun demikian, sejalan dengan naiknya ketidakpastian di pasar global, pasar keuangan melemah di Mei 2019.

Di sisi lain, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan, menurut Anto, juga masih positif di bulan April 2019. Kredit perbankan tumbuh sebesar 11,05 persen, didorong oleh pertumbuhan kredit investasi yang mencapai level tertingginya dalam tiga tahun terakhir.

Sementara itu, pertumbuhan piutang pembiayaan stabil pada level 4,52 persen, di tengah masih moderatnya pertumbuhan piutang pembiayaan multiguna.


Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,63 persen, didorong oleh pertumbuhan deposito sebesar 7,21 persen.

Sementara itu, sepanjang Januari - April 2019, asuransi jiwa dan asuransi umum/reasuransi berhasil menghimpun premi masing-masing sebesar Rp58,8 triliun dan Rp34,2triliun.

Adapun sepanjang tahun ini (Januari s.d. 17 Mei 2019) emiten berhasil menghimpun dana melalui pasar modal sebesar Rp 38,04 triliun, dengan jumlah emiten baru sebanyak 9 perusahaan (dari 9 IPO saham).

OJK juga mencatat profil risiko lembaga jasa keuangan pada April berada pada level yang terkelola. Rasio Non Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,57 persen, sementara rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan stabil pada level 2,76 persen.


Risiko nilai tukar perbankan berada pada level yang rendah, dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 2,04 persen, di bawah ambang batas ketentuan.

Likuiditas dan permodalan perbankan juga berada pada level yang memadai. Liquidity coverage ratio dan rasio alat likuid/non-core deposit masing-masing sebesar 197,56 persen dan 96,51 persen, di atas ambang batas ketentuan.

Kondisi ini juga didukung dengan jumlah total aset likuid perbankan yang mencapai sebesar Rp1.266 triliun di April 2019.

Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang tinggi. CAR perbankan tercatat sebesar 23,47 persen, RBC industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 310 persen dan 437 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan.
[Gambas:Video CNN] (agi)