Mereka yang Mendambakan 'Thamrin' Beraktivitas Normal

CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 15:19 WIB
Mereka yang Mendambakan 'Thamrin' Beraktivitas Normal Ilustrasi karyawan. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Situasi Jakarta memanas di hari ke-18 bulan suci Ramadan. Bukan karena terik matahari yang menghangatkan Jakarta, namun aksi massa berujung kerusuhan yang membakar Ibu Kota pada Rabu (22/5) kemarin. Segelintir oknum di deretan massa penolak hasil pemilihan umum (Pemilu) disebut-sebut memicu bentrok dengan aparat.

Kondisi Jakarta yang semakin kritis membuat masyarakat mencari tempat perlindungan. Beberapa perusahaan dan kantor pemerintah tutup lebih cepat. Banyak karyawan yang terpaksa dibubarkan lebih dulu dari jadwal seharusnya.

Andra, contohnya. Pria berusia 28 tahun yang bekerja di Gedung Wisma Nusantara ini kemarin disuruh pulang cepat oleh kantornya lantaran situasi yang tidak kondusif. Tadinya, ia berharap bisa kerja normal lagi pada hari ini. Hanya saja, sebuah surat elektronik internal mampir ke kotak surelnya malam hari tadi.


"Dari e-mail itu disebutkan kalau mulai hari ini saya kerja dari rumah lagi, dan itu sesuai dengan arahan direksi saya. Kantor yang dekat dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sih yang bikin waspada," ujar Andra kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/5).


Saat ini perusahaan tempat Andra bekerja memiliki dua kantor yakni di Wisma Nusantara dan Jakarta Selatan. Arahan untuk kerja di rumah hanya berlaku bagi pekerja di kantornya saja. Sementara itu, kantor kedua di Jakarta Selatan masih tetap buka seperti biasa.

"Kalau ada sesuatu yang urgent atau perlu koordinasi, bisa ke lokasi lainnya," jelas dia.

Selanjutnya, ia masih belum tahu sampai berapa lama imbauan kerja dari rumah ini akan berakhir. Namun, ia berharap arahan bekerja dari kantor selesai, sehingga ia bisa kembali beraktivitas di kantor. Meski kerja dari rumah terdengar menyenangkan, namun Andra merasa tak betah.

Menurut dia, kerja dari rumah membuat komunikasi jadi lebih repot. Biasanya, ia bisa bertatap langsung dengan kolega mengenai hal-hal yang dikerjakannya. Selama dua hari ini, alih-alih tatap muka dengan rekan kerjanya, Andra harus mau bertatap muka dengan layar komputer dan ponsel.


Ia mengatakan komunikasi langsung lebih efektif untuk menyampaikan inti pekerjaan yang sedang dikerjakan. Jika komunikasi dilakukan secara tidak langsung, ia khawatir akan banyak miskomunikasi dengan rekan kerjanya.

"Apalagi dengan pembatasan media sosial ini koordinasi lumayan susah. Meskipun ada imbauan untuk menggunakan platform chat lainnya untuk koordinasi," tutur Andra.

Setali tiga uang, Lisa Lestari pun merasakan hal yang sama. Wanita berusia 25 tahun dan bekerja di Gedung UOB Plaza, Jalan Sudirman ini merasa kinerjanya tidak optimal kala bekerja di rumah pada Rabu kemarin. Di saat-saat seperti itu, Lisa ingin kembali kerja di kantor lagi.

Lisa mengaku tidak suka berkomunikasi dengan rekan kerjanya melalui telepon, aplikasi pesan singkat, atau e-mail. Menurutnya, komunikasi yang terbatas ini juga bikin pekerjaannya terhambat.


"Jadi secara personal saya lebih suka kerja di kantor. Kalau di rumah cuma bisa mengerjakan setengah," jelas Lisa.

Tak ketinggalan, Lisa mengakui bahwa dirinya mudah terdistraksi. Karena tidak ada yang mengawasi kerja di rumah, ia lebih sering menghabiskan waktu kerja menonton video di internet atau menonton drama Korea. Walhasil, dirinya baru mulai fokus bekerja pada malam hari.

Makanya, ia cukup gembira ketika hari ini ia bisa kembali masuk kerja. Apalagi, saat ini pekerjaan Lisa sedang menumpuk, sehingga mau tak mau seluruhnya harus diselesaikan di kantor.

Wanita yang berprofesi di bidang personalia ini mengatakan sedang mengumpulkan evaluasi karyawan. Di samping itu, banyak karyawan yang akan habis masa kontraknya pertengahan tahun ini, sehingga banyak hal yang perlu ditinjau.

[Gambas:Video CNN]

Senyum Lisa pun kian mengembang setelah melihat jalanan dari rumahnya menuju kantor terbilang lengang. "Jadi untuk saat ini saya senang bisa kembali ke kantor," jelas dia. (glh/lav)